SELAMAT DATANG

Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...
Tampilkan postingan dengan label sandiwara cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sandiwara cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

Sandiwara Cinta #7




Sandiwara Cinta
Part 7

***

            Jika mencintaimu akan menimbulkan luka, aku rela terluka lebih lama.

            Tetesan air turun satu demi satu di depan Alvent. Hanya rintikan hujan yang turun sore itu, menemani Alvent yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Semuanya masih terekam jelas dalam benak Alvent. Semuanya tanpa terkecuali, tanpa ada yang terlupakan sedikit pun. Semua kejadian yang telah berlalu. Semua yang menguras seluruh tangis dan emosi. Semua yang menenggelamkan segala tawa dan bahagia. Bagaimana gadis itu menangis. Bagaimana gadis itu meminta juga memohon dengan seluruh jiwanya. Bagaima Vita terluka karenanya.

            Alvent menghela nafas panjang. Mencoba mengeluarkan sedikit beban yang terasa semakin berat setelah kejadian itu.

***

            “Ngapain sih Vit?”

            Vita menoleh, baru sadar jika Yana ada di sampingnya. Berdiri bersama di tepi koridor depan kelas mereka.

            “Nggak pa-pa,” jawabnya singkat.

            Yana kembali diam. Tak ingin mencampuri terlalu jauh urusan sahabatnya ini. Walaupun tanpa Vita sadari Yana tau segalanya yang telah terjadi. Tapi sekarang dia hanya ingin berada di samping sahabatnya, hanya untuk mengawasi keadaan Vita, hanya itu tak lebih.

            “Lo pasti tau semuanya kan Yan?” Vita menolehkan kepalanya. Memaksimalkan indera penglihatannya agar bisa menatap mata hitam milik Yana.

            “Tau apaan?”

            Vita tersenyum samar. Sudah menduga jika Yana akan diam. Dialihkan pandangannya. Menerawang jauh ke atas awan. Membayangkan wajah itu lagi. Mencoba mengingatnya sekali lagi.

            “Hubungan gue sama Alvent,” katanya lirih. Luka itu tiba-tiba menyeruak kembali ke dadanya, menimbulkan sakit yang tak terurai.

            Yana terkesikap mendengar perkataan Vita. Melihat nanar pada wajah Vita yang lelah dan pucat. Mungkin sekarang sudah waktunya untuk bercerita. Menjelaskan apa yang dia bisa, mengurangi sedikit luka yang menyakiti Vita.

            “Gue nggak maksa lo buat cerita,” kata Vita yang masih menerawang ke atas.

            Yana terpaku. Menunggu. Memberi sedikit waktu bagi Vita.

            “Gue nggak mungkin bisa nginget semuanya sendiri Yan. Gue butuh orang lain buat bantu nginget dia.”

            Yana menyimaknya dengan bungkam. Ada nada meminta yang keluar dari bibir Vita yang bertolak dengan pernyataannya tadi.

            “Tapi gue tau kondisinya. Ngelakuin apapun juga jadi serba salah. Jadi lo nggak usah ngerasa bersalah karna nggak cerita.” Vita menatap Yana lalu tersenyum, ingin memberitahu Yana dalam bentuk lain jika itu bukan masalah besar, bukan kesalahan yang fatal jika itu semua disembunyikan.

            “Juga karna...” Vita menggantung kalimatnya, mencoba mencari ketegaran dirinya sebelum melanjutkan kalimat itu. “Juga karna Alvent nggak minta gue buat inget dia lagi. Bahkan nggak ngasih kesempatan ke gue buat nginget.” Vita tersenyum getir setelah mengatakn itu. “Dia juga bilang, kalo dia bakalan ngelupain gue kayak gue yang ngelupain dia,” lanjutnya lirih. Vita diam, tertegun sendiri mendengar kalimat yang dia utarakan. Kata-kata yang keluar dari mulut Alvent kemarin. Kata-kata yang begitu menyayat dan menghancurkan hatinya dengan sedemikian rupa.

            Yana memalingkan pandangannya. Menatap pohon yang berdiri dengan angkuh di depannya. Melihat Vita hancur untuk kedua kalinya. Menjadi saksi sakit hati yang begitu dalam membuat Yana sangat bersalah. Dulu air mata itu dikeluarkannya untuk Hendra dan sekarang air mata itu mengalir lagi hanya sekarang beningan itu untuk Alvent.

            “Gue emang tau semuanya.”

            Satu kalimat yang akan membuka semuanya. Menyuarakan segala yang tersembunyi. Mengurai luka satu demi satu.

            “Udah gue tabak,” kata Vita yang masih enggan melihat Yana. Membiarkan Yana begitu saja.

            Yana berbalik. Menyenderkan punggungnya di tepi koridor itu. Menghela nafas. Mempersiapkan segala yang akan terjadi sesudah ini.

            “Gue bakal cerita semuanya.”

            Vita ikut berbalik, menyenderkan punggungnya di samping Yana hingga salah satu bahunya menyentuh bahu kanan Yana. Mengusap air matanya sebelum mendengar segala pengakuan Yana.

            Dengan tenang Yana menceritakan semuanya. Semua kisah yang tak diingat Vita. Mengajak Vita sakit untuk kedua kalinya. Membuat Vita harus menahan segala tangis, emosi dan amarahnya. Semuanya harus dipendamnya keras saat ini. Semuanya dengan jelas diputar oleh Yana. Segala bentuk luka dengan detail. Segala kesenangan yang begitu mudah terlupakan. Segala bentuk cinta yang membuat bahagia dan lara.

            Vita mendengar Yana tanpa menatapnya. Mendengar tanpa bersuara. Mendengar dengan segala bentuk penyesalan yang terjadi. Semua yang dia dengan begitu menyakitkan. Bahkan berkali-kali dia harus membekap mulutnya karna isakan yang keluar terlalu kuat.

            “Dulu Hendra kita jadiin bahan taruhan. Elo menang karna bisa jadiin dia pacar,” kata Yana lalu menatap Vita, meyakinkan gadis itu jika itu benar-benar terjadi. “Tapi lo jatuh cinta beneran sama Hendra,” lanjutnya lagi.

            Vita tersenyum saat mendengar itu. Ternyata dia tak benar-benar jahat.

            “Tapi semuanya terlambat, Hendra keburu tau. Dia marah besar. Elo diputusin saat itu juga. Elo dimaki, diteriakin, disumpahin. Semua yang jelek keluar dari mulut dia buat elo.”

            Vita menekan dadanya. Membekap mulutnya.

            “Hendra pergi tapi elo nerus nahan dia. Elo buntutin dia sampe-sampe elo nggak tau kalo ada mobil. Terus lo ketabrak dan lupa ingatan.”

            Isak tangis Vita membuat bahu gadis itu berkuncang.

            “Terus?”

            Yana kembali bercerita. Mendongengkannya lagi untuk Vita dengan baik. Bagaimana gadis itu bertemu Alvent dan mulai jatuh cinta dengan salah satu bintang kampus mereka saat ingatannya masih hilang.

            “Tapi karma buat lo Vit. Alvent deketin lo cuma karna dia taruhan sama Hendra. Mereka jadiin lo bahan taruhan kayak kita yang jadiin Hendra bahan taruhan dulu.”

            “Ternyata Alvent nggak bener-bener suka sama gue,” sangat lirih Vita bekata, bahkan nyaris berbisik. Pelan tubuh Vita jatuh. Terduduk di lantai.

            “Huffttt,” Yana menghela nafas. Menundukan kepalanya. Meluruhkan badannya ke lantai mengikuti Vita.

            “Elo salah. Sama kayak elo dulu. Alvent beneran cinta sama elo.”

            Vita hanya diam. Tak ada respon yang terpancar dari raut wajahnya. Dia begitu tertegun dengan semua yang diceritakan Yana.

            “Sekarang gue mau tanya sama elo,” kata Yana yang menatap Vita.

            “Apa?” balas Vita yang juga menatap Yana tanpa ekspresi.

            “Siapa yang ada di hati lo sekarang? Hendra apa Alvent?”

            Vita membeku. Matanya tajam menatap Yana, seolah mengatakan bahwa dia tak pantas menanyakan hal itu.

            “Nggak tau. Gue bingung. Tapi gue rasa yang ada di hati gue Hendra.”

            Vita memalingkan pandangannya. Mengatakan itu dengan jelas tanpa ragu. Meyakinkan dirinya sendiri jika memang Hendra yang ada di hatinya.

            “Gue suka sama Alvent waktu gue lupa ingatan dan setelah ingetan gue balik gue lupa semuanya. Berarti Alvent cuma cinta sesaat gue.”

            “Tapi waktu lo dulu lupa ingatan lo nggak pengen tau Hendra lagi. Lo nggak berusaha buat nginget Hendra lagi. Walaupun elo sering ketemu dia di kampus. Tapi sekarang saat lo udah inget lagi, lo lupa sama Alvent. Apa yang lo lakuin? Lo bela-belain cari siapa yang namanya Alvent. Lo bela-belain buat janji sama cowok itu kalo lo bakal inget sama dia lagi.”

            Vita tertegun mendengar penjelasan Yana.

            “Cinta cuma perlu dirasain pake hati, nggak perlu diinget pake otak. Karna pada akhirnya kalo itu emang cinta, sepikun apa pun kita, kita bakal selalu inget sama dia.”

***

            Hendra benar-benar emosi kali ini. Dia begitu marah. Sekarang posisinya telah berubah. Dia sudah tak bisa memegang kendali lagi. Vita sudah tau segalanya. Walaupun bukan dari kesadarannya sendiri. Tapi itu membuat medan perang semakin berbahaya. Sekecil apapun kesalahan akan membuat semuanya kacau, atau bahkan akan mematikan seluruhnya. Mematikan seluruh cinta yang pernah tumbuh di antara mereka semua.

            “Ngomong apa lo sama Vita!” Hendra berteriak di depan Alvent. Berdiri di depan Alvent yang tengah duduk di pinggir lapangan basket.

            “Ck,” Alvent berdecak, malas berurusan dengan orang di depannya ini.

            Emosi Hendra semakin memuncak ketika melihat Alvent tak memberikan respon. “Berdiri nggak lo!” teriaknya lagi, tapi lagi-lagi Alvent menghiraukannya.

            Sikap Alvent yang seperti ini membuat Hendra yakin jika mantan sahabatnya ini memang ingin benar-benar berperang dengannya.

            Hendra langsung bergerak. Ditariknya kaos Alvent hingga laki-laki itu berdiri lalu dipukilanya bertubi-tubi. Meluapkan segala kemarahannya kepada Alvent. Kepada laki-laki yang dicintai Vita. Kepada mantan sahabatnya yang begitu dia benci.

            Alvent masih tetap diam. Menerima semua yang akan dilakukan Hendra.

            Buk. Satu pukulan keras mendarat di pipi kanan Alvent.

            Buk. Satu pukulan lagi menjurus pada perut Alvent yang membuat laki-laki itu terhuyung kebelakang dan jatu.

            “Hosh hosh hosh,” nafas Hendra tersengal-tersengal. Didekatinya Avent yang jatuh tak jauh darinya, lalu diinjaknya perut Alvent. Hendra membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya dengan Alvent.

            “Gue udah bilang sama lo. Jauhin Vita!” katanya dengan berdesis. Hendra menendang Alvent sebelum berlalu dari sana.

            Buk. Satu tendangan mendarat di punggung Hendra dari Alvent yang membuat Hendra tersungkur ke tanah. Sekarang Alvent akan menerima tantangan Hendra.

            Hendra berdiri, menatap Alvent yang ada di depannya. Menatap tajam laki-laki yang penuh luka di badannya.

            “Lo nantangin gue?” tanya Hendra dengan nada penuh amarah.

            Tanpa banyak berkata kedua laki-laki itu adu fisik. Mendaratkan satu pukulan demi pukulan ke badan lawan. Hendra maupun Alvent telah diselubungi emosi, dendam, amarah yang tak bisa dikendalikan. Keduanya hanya memikirkan bagaimana membuat luka pada lawannya. Tanpa memikirkan bagaiman indahnya persahabatan yang pernah terjalin di antara mereka.

            Buk. Satu pukulan terakhir mendarat di perut Alvent dan membuat laki-laki itu tersungkur. Kalah dengan telak.

            “Rasain lo!” desis Hendra yang kemudian meninggalkan Alvent di pinggir lapangan basket. Meninggalkan Alvent yang tetap tersungkur di atas tanah.

***

            Vita menampar Hendra berkali-kali. Dengan penuh tangis dan rasa benci tak henti-hentinya gadis itu menampar bahkan memukuli Hendra.

            “Kenapa lo bunuh Alvent? Kenapa?!” teriaknya dengan histeris. Vita benar-benar benci pada laki-laki di depannya ini. Benar-benar ingin membunuh Hendra sekarang juga jika dia tak ingat bahwa sekarang dia berada di tempat para pembunuh ditahan.

            Hendra hanya diam menerima segala tindakan Vita. Dia rela menerima segala luapan emosi gadis itu.

            “Maaf Vit. Aku nggak sadar waktu ngelakuin itu semua. Aku lagi emosi gara-gara kamu putusin aku karna Alvent. Alvent itu nggak pantes buat kamu.”

            “Terus yang pantes buat gue siapa? Elo? Iya? Gue pantesnya sama pembunuh kaya elo gitu?”

            Hendra kembali diam. Dia hanya bisa diam ketika Vita menyebutnya pembunuh.

            “Gue berdoa semoga Tuhan ngampuni segala dosa-dosa lo!” Lalu Vita pergi dari hadapan Hendra. Meninggalkan Hendra yang kembali harus masuk ruang tahanannya.

***

           Vita menatap gundukan tanah yang masih merah itu. Di bawah sana telah terkubur jasad laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang mencintainya dengan segala keterbatasan yang ada. Sudah tiga hari sejak hari kematian Alvent, Vita selalu berkunjung di sini. Biasanya Vita akan datang ketika sore menjelang. Ketika banyak burung yang pulang ke sarangnya. Gadis itu akan bersimpu di samping gundukan itu hingga sang mentari pulang keperaduannya.

           “Kamu bilang kapan aku inget kamu? Aku inget kamu tiga hari yang lalu. Yah walaupun Yana yang cerita sih, tapi aku langsung inget kamu.”

           Vita diam lagi. Menatap kayu yang tertancap di atas tanah itu. Membaca nama yang tertulis di sana.

           “Alvent Yulianto Candra,” dia mengejanya pelan. “Nama kamu bagus juga ya ternyata,” lanjutnya lagi.

           “Aku cinta sama kamu Vent, tapi aku nggak bisa janji cuma cinta sama kamu. Aku cuma bisa janji kalo aku nggak akan ngelupain kamu, kamu akan aku taruh di sini,” Vita menunjuk dadanya lalu tersenyum. “Separuh hatiku udah jadi milik kamu. Tapi aku minta ijin buat kasih separuhnya buat pendampingku kelak.”

           Vita memandang langit. Menyaksikan matahari tenggelam ketiga kalinya di makan Alvent. Menikmati pemandangan sore yang begitu hening. Dan kali ini air mata Vita keluar lagi. Menangisi kepergian Alvent untuk entah keberapa kali.

           “Aku janji ini air mata yang terakhir.”

           Vita beranjak dari sana. Meninggalkan Alvent yang sudah damai tidur dalam dekapan bumi.

           Walaupun kamu tiada tapi aku akan tetap mencintaimu walau dengan sederhana.

Tamat
***

Sandiwara Cinta #6




Sandiwara Cinta
Part 6

***

            Siang ini cuaca di Jakarta begitu terik. Matahari bak berada di atas kepala. Vita yang selalu bersemangat melakukan aktivitasnya menjadi sedikit malas bergerak. Tubuhnya terkulai lemas di atas meja kelas. Kepalanya juga terasa pusing sejak dia bangun tidur tadi pagi.

            “Elo sakit Vit?” tanya Yana yang bingung melihat tingkah laku sahabatnya itu.

            “Nggak papa kok.” Dengan samar Vita menggeleng. Tubuhnya tak berubah sedikit pun.

            Nitya yang juga bersama mereka dengan paksa menegakkan tubuh Vita, ditariknya sampai dia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

            “Pucet banget. Pulang gih.” Sarannya yang kaget melihat keadaan Vita yang jauh dari kata baik-baik saja. “Panas pula,” lanjutnya lagi setelah memegang kening Vita.

            Gadis itu lagi-lagi menggeleng. Enggan mengikuti saran dari salah satu sahabatnya.

            “Masih ada kelas,” jawabnya dengan suara yang timbul tenggelam.

            “Entar gue ijinin deh.” Bujuk Yana yang tak tega melihat kondisi Vita seperti itu.

            “Udah sono balik. Gue telepon Hendra ya biar nganterin pulang?” Tawar Nitya, sedangkan Yana langsung membereskan buku-buku milik Vita.

            Vita menghela nafas dengan lesu. Dia tidak bisa menolak untuk tidak menuruti permintaan sahabat-sahabatnya itu.

            “Hendra lagi ada rapat sama anak BEM,” kata Nitya setelah menghubungi Hendra. “Kita anter deh.”

            “Gue bisa balik sendiri. Bisa naik taksi ini,” tolak Vita yang langsung menenteng tasnya. “Gue nggak mau kalian cabut dengan mengatas namakan nganterin gue pulang.”

            Yana dan Nitya menyeringai bersamaan. Mereka memang senang jika bisa cabut dari kelas Pak Nova yang terkenal killer itu. Apalagi alasannya jelas.

            “Udah ah gue balik dulu.”

            Vita melangkah pelan keluar dari kelasnya. Dengan sisa-sisa energi yang dimiliki, gadis itu memaksakan kakinya untuk terus menopang tubuhnya yang semakin lama terasa berat. Vita terus berjalan dan tanpa sadar jika sedaritadi ada sepasang mata yang mengikuti pergerakannya,.

            “Siniin kuncinya.”

            Vita yang baru saja sampai di parkiran dan mengeluarkan kunci dari tas langsung terperangah melihat Alvent yang tau-tau menodongnya.

            Vita tak memberikan apa yang diminta Alvent tapi ternyata Alvent bergerak lebih cepat. Belum sempat Vita berujar sesuatu dia sudah merebut kunci yang ada di tangan gadis itu tanpa ijin.

            “Gue anter pulang. Sana masuk.” Kata Alvent dengan nada memerintah.

            “Gue bisa pulang sendiri.” Vita menolak dan berusaha mengambil kembali kunci mobilnya.

            Alvent mencoba berkelit dari tangan Vita yang berusaha mengambil kembali kuncinya. Laki-laki itu mendengus setelah melihat usaha Vita yang begitu keras. Dengan terpaksa dia memegang kedua tangan Vita. Menguncinya agar tidak bergerak.

            “Liat.” Seru Alvent yang memaksa Vita menunduk guna melihat kondisinya dari spion mobilnya sendiri.

            “Elo tuh pucet banget. Masih bisa pulang sendiri? Bisa bawa mobil? Mana mungkin gue biarin cewek yang gue sayang pulang sendiri dengan keadaan kayak gini.”

            Vita terpaku melihat bayangan wajahnya. Dia begitu pucat. Tapi wajahnya begitu tegang setelah mendengar ocehan Alvent tadi. Ada sesuatu yang ganjal yang tak begitu jelas ditangkap oleh pendengarannya.

            Vita mencoba mengurai genggaman Alvent pada tangannya. Ditatapnya Alvent dalam-dalam. Mencoba mencari kesungguhan dari mata laki-laki itu. Mencari pengulangan kata-kata tadi  dalam bentuk yang lain.

            “Coba ulangin,” pinta Vita dengan lemah. Badannya mulai gemetar. Kepalanya begitu pusing.

            “Aku sayang sama kamu,” ualang Alvent tanpa basa-basi. Tapi ternyata sebelum kata-kata itu tertangkap sempurna oleh pendengaran Vita, gadis itu keburu ambruk di depan Alvent. Meluruh ke tanah bersama gaya gravitasi yang ada.     

***

            Alvent duduk bersila di balkon kamarnya. Laki-laki itu menghirup rokok yang ada di tangannya dengan menatap matahari yang mulai menghilang dari bumi. Alvent memang anti tembakau, tapi jika sudah begini, jika emosinya sudah tak terbendung, prinsip itu tak berlaku. Hanya dengan menghisap kuat-kuat rokok itu dan mengepulkannya ke udara dia berharap bisa mengurangi penat di dalam kepalanya. Tapi bayangan Vita yang tiba-tiba terjatuh di depannya tidak bisa begitu saja hilang. Wajahnya yang pucat terus berkelebat.

***

            Vita belum sadar sejak tadi siang. Tubuhnya masih terkulai lemas di atas kasur. Matanya terus saja tertutup dengan tenang bahkan nyaris seperti orang mati jika saja dadanya tidak naik turun untuk menghirup nafas.

            Saat semua orang terlelap. Saat itulah Vita mulai sadar. Dini hari Vita mulai membuka matanya. Kepalanya masih pusing, pandangannya pun sedikit kabur. Tapi tetap saja gadis itu berusaha untuk bangun. Tenggorokannya terasa kering. Dengan meraba benda yang ada di sekitarnya Vita mencoba berjalan menuju dapur. Memegang apa saja yang sekiranya kuat untuk menopang tubuhnya.

            Bruk.

            Vita terjatuh lagi. Tubuhnya langsung tersungkur di lantai kamarnya. Kotak yang mirip kotak sepatu itu juga ikut terpelanting karena tertendang oleh Vita. Kotak yang menjadi penyebab dia jatuh. Benda-benda yang ada di dalam kotak itu mencuat begitu saja. Berhamburan ke sana kemari. Memperlihatkan rahasia yang tersembunyi selama ini. Ada lembaran foto, kaset, kalung, flashdisk dan benda-benda lainnya.

            Vita meruntuk dalam hati. Sekarang bukan hanya kepalanya yang pusing badannya juga ikut sakit karena terbentur tepi tempat tidur yang terbuat dari kayu itu.

            Dengan enggan Vita memunguti benda-benda itu. Tanpa menghiraukan apa yang ada di genggamannya dia langsung memasukkan benda-benda itu ke dalam kotak lagi. Tapi kegiatannya terhenti pada satu lembar foto, benda terakhir yang masih tertinggal di lantai kamarnya. Satu lembar foto yang sangat berarti bagi wajah-wajah yang ada di dalamnya. Momen yang tak akan bisa diulang kembali. Vita masih melihatnya dengan terperangah. Kecurigaannya mencuat kembali. Di dalam kertas foto itu, tergambar dirinya dan Alvent yang sedang tertawa lepas di atas komedi putar.

            Dufan, main bareng lagi. Love you ya...

            Vita membacanya berulang-ulang tulisan yang berada di balik foto itu. Membacanya dengan keterperangahan yang memuncak.

            Seperti kesetanan dia mengeluarkan kembali isi dari kotak di depannya itu. Ternyata semua foto yang tersimpan adalah foto dirinya bersama Alvent. Foto-foto yang terlewatkan. Juga dengan tulisan di baliknya. Selalu tertulis kata cinta di dalamnya.

            Vita mengambil flashdisk yang berbentuk raket, yang menjadi bagian dari kotak itu, lalu menancapkannya ke komputer dengan cepat-cepat. Hanya ada satu file di sana. Sebuah video tanpa judul. Dengan ragu Vita membukanya.

            Gadis itu menahan nafas saat gambar itu mulai muncul di layar komputer. Wajahnya yang berada di sana juga kadang berganti dengan wajah Alvent. Hanya ada tawa di dalam rekaman itu. Tampak sangat dekat dan bahagia.

            “Vit ayo bilang sesuatu.” Suara Alvent terdengar dalam rekaman itu.

            Wajah Vita tampak kebingungan. Tapi ada semburat merah di pipinya.

            “Ngomong apa?”

            “Terserah. Cepetan keburu abis ini film nya,” ujar Alvent yang terus memaksa Vita mengatakan sesuatu.

            “Hallo, ini gue Vita, gue pacarnya Alvent. Gue nggak tau kenapa gue suka sama dia mungkin pake pelet kali ya.”

            “Yee ngeledek. Yang bener dong Vit,” protes Alvent menghentikan Vita. Hanya suara yang terus terekam dari sosok Alvent.

            “Cerewet!” kata Vita galak yang sesaat gambarnya hilang.

            “Alvent tuh cerewet tapi nggak tau kenapa gue sayang banget sama cowok badung ini,” lanjut Vita yang dibarengi dengan kemunculan gambarnya juga Alvent yang sudah dirangkul di sampingnya.

            “Gue juga sayang banget sama cewek satu ini,” kata Alvent menutup video itu dengan mengacak-acak rambut Vita.

            Vita menutup mulutnya. Menekannya kuat-kuat agar tangisnya tak pecah di tengah sepinya malam. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedekatannya dengan Alvent yang tak dia ingat. Hubungannya dengan Alvent yang ternyata menempatkan dirinya sebagai kekasih laki-laki itu begitu telak memukul Vita. Dia lupa segalanya.

***

            Alvent memegang pipinya. Entah dari mana hadirnya Vita yang tiba-tiba datang dan menamparnya begitu saja. Setelah satu tamparan itu Vita hanya diam dan menghujaninya dengan tatapan yang tajam.

            “Lo jahat!” kata itu keluar dengan lirih dari mulut Vita. Matanya tetap tajam menatap Alvent.

            “Lo jahat sama gue Vent.” Ulangnya lagi.

            “Siapa yang jahat? Coba ulang sekali lagi.” Tantang Alvent. Laki-laki itu mulai mengetahui arah pembicaraan gadis di depannya ini.

            Vita memalingkan pandangannya. Ditekannya kuat-kuat perasaannya kali ini. Ditahannya benar-benar air mata yang ingin menetes ini.

            “Siapa yang jahat? Gue?” tanya Alvent yang memegang rahang gadis itu dan memaksa Vita untuk menatapnya. “Gue?” ulang Alvent setengah berbisik dengan menjajarkan kepalanya dengan kepala Vita.

            Vita tak menjawab. Dia hanya bisa memandangi Alvent dalam diam. Dia benci dengan laki-laki di hadapannya ini.

            “IYA LO YANG JAHAT!” Vita berteriak. Dihempaskannya tangan Alvent yang memegang rahangnya. Nafasnya memburu.

            “Lo boong sama gue. Lo jahat Vent. Gue benci! Kenapa lo nggak bilang kalo kita ini pacaran. Kenapa malah ngehindar? Biar apa?”

            “Gue nggak menghindar. Elo yang menghindar. Gue tanya? Kalo gue bilang kalo gue ini pacar lo apa lo percaya? Elo yang lupa sama gue Vit bukan gue yang lupa sama lo. Apa masih bisa gue dibilang jahat? Sekarang siapa yang jahat? Gue apa elo?”

            Vita mendengar perkataan Alvent dengan sedih. Memang benar dia yang lupa segalanya. Dia melupakaan Alvent. Bahakan sampai saat ini, sampai dia memuntahkan segala amarahnya kepada laki-laki di depannya dia belum ingat sedekat apa hubungan mereka. Tragis.

            “Sekarang yang ada diingetan lo cuma Hendra. Bukan gue. Bahkan nama gue udah nggak punya tempat di memori otak lo. Gue yakin sampe sekarang pun elo juga belum inget siapa gue dengan jelas. Kalo bukan gara-gara kotak yang gue kasih di kamar lo kemaren mungkin sekarang elo nggak bakalan ngomong kayak gini. Gue tau elo cuma sayang sama Hendra.”

            Dipandanginya Vita dalam-dalam. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Sedikit terluka di sana. Alvent menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman ketir. Dia menemukan jawaban dari mata Vita. Ternyata dugaannya benar. Vita memang belum mengingatnya.

            “Kalo gue cuma sayang sama Hendra kenapa kita pacaran?” tanya Vita dengan telak. Alasan yang tak ingin diungkapakan oleh Alvent. Alasan yang akan menimbulkan luka baru.

            “Kenapa cuma diem? Jawab dong!” paksa Vita yang tak sanggup menahan emosinya lagi.

            “Gue sayang sama elo Vit dan saat gue bilang gitu elo juga jawab kalo lo sayang sama gue.”

            “Terus kalo lo udah tau kalo gue sayang sama lo kenapa lo masih ragu sama gue?”

            Vita menangis di hadapan Alvent. Dia tak tahu mengapa dia dengan bodoh bisa melupakan laki-laki di hadapannya ini. Ditatapnya Alvent yang hanya diam di depannya. Memohon agar Alvent percaya padanya.

            “Kenapa lo ragu sama gue?” tanya Vita sekali lagi. Suaranya beradu dengan isak yang timbul dari bibirnya.

            Alvent balas menatap Vita. Menimbulkan hening yang dalam di antara mereka.

            “Elo mau tau kenapa gue ragu?” tanyanya kepada Vita. “Karna lo lupa saa gue,” lanjutnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Vita.

            Alvent mengatakannya dengan jelas. Menatap gadis itu dengan tajam. Menutupi semua perasaan yang bergejolak di hatinya. Membohongi semua akal pikirannya. Dia rindu pada gadis ini, dia rindu walaupun dia tetap tak teringat.

            “Tapi gue bakal berusaha,” ucap Vita seperti memohon. Meluruhkan segala gengsinya demi laki-laki yang bernama Alvent.

            “Gue bakal inget semua tentang lo. Gue janji.”

            “Kapan lo bakal inget? Sampe kapan gue bakal nunggu?”

            Vita terdiam. Dia tak menyangka bahwa kata-kata Alvent akan begitu dingin. Menyayat sampai tak terhitung jumlahnya.

            “Nggak usah maksa. Gue juga udah nggak berharap kalo lo inget lagi. Bagi gue semuanya udah berakhir. Mending sekarang lo pergi dan balik ke Hendra. Gue udah rela.”

            Alvent sadar dengan kata-katanya. Dia sadar dengan efek yang akan timbul setelahnya. Vita akan terluka bahkan dirinya juga akan terluka. Sekali lagi dia melakukan hal yang tak diinginkan.

            “Kalo lo bisa lupa sama gue, gue juga bisa lupa sama lo.” Dingin Alvent mengatakannya kemudian berlalu dari hadapan Vita.

            Vita hanya bisa terdiam di tempat melihat Alvent menjauh darinya. Meninggalkan semua sakit di dadanya. Suara laki-laki itu masih terngiang di otaknya. Suara yang dingin tapi rapuh.

            Gue bakal inget Vent. Walaupun seumur hidup gue cuma habis buat nginet lo bakal gue lakuin.

***

Minggu, 28 Oktober 2012

Sandiwara Cinta 5






Sandiwara Cinta
Part 5

***

    Tidak seperti biasa, pagi ini Vita begitu malas untuk bergerak. Badannya sedari tadi hanya menggulung-gulung di atas kasur. Ke kanan dan ke kiri bergantian. Diambilnya handphone munggil di atas meja kecil itu. 12 panggilan tak terjawab dan 5 pesan tertera di layar handphone.
    Hendra, Yana, Nitya, Hendra, Hendra, Hendra, Yana, Yana, Yana, Hendra, Hendra, Alvent ♥
    Vita mengrenyitkan keningnya. Alvent? Siapa Alvent? Namanya terlalu asing bagi Vita. Bahkan dia baru tahu jika di phonebook nya ada yang bernama Alvent ditambah dia menyinpan nomor itu dengan simbol hati. Vita meneliti angka-angka yang berjejer itu. Masih penasaran. Nama Alvent betanda hati apa maksudnya?

***
    Vita meneguk jus mangga yang berada dihadapannya dengan lambat-lambat. Dilihatnya Yana dan Nitya yang sedang berada bersamanya. Menunggu jawaban dari kedua sahabatnya itu.
    “Alvent siapa sih?” ulangnya sambil menyenderkan badannya ke kursi Cafe Latansa.
    Yana tampak melirik Nitya. Dia bahkan tak tahu harus bagaimana.
    Jangan bilang tentang Alvent dihadapan Vita.
    Kata-kata Hendra kemarin benar-benar membuat kedua sahabat Vita ini bimbang. Vita sudah kembali pada ingatannya yang dulu dan melupakan segala kejadian setelah kecelakaan maut itu. Melupakan apa yang sudah terjadi pada gadis itu belakangan ini bahkan melupakan Alvent yang begitu mencintainya.
    “Yaudah kalo kalian nggak mau cerita, gue bisa cari tau sendiri.”
    Vita bangkit dari kursinya. Mengambil tas dan berjalan keluar dari tempat itu. Sedangkan Yana dan Nitya hanya bisa berdiam melihat langkah Vita yang cepat-cepat itu.
***
    Alvent membaringkan tubuhynya di rumput taman belakang fakultasnya. Dipandanginya awan siang itu dari celah daun-daun mangga yang menutupinya. Ada sebersit rasa sakit yang masih dirasakan. Secepat itukah dia harus merelakan Vita. Semudah itukah dia dilupakan oleh gadis yang telah merebut hatinya. Alvent tersenyum, senyum yang seperti mengejek dirinya sendiri. Dia seperti pecundang siang itu. Dia laki-laki tapi dia hanya bisa diam ketika cintanya lari ke orang lain. Tak ada kata-kata, tak ada perlawanan yang dia lakukan untuk mempertahankan cinta Vita, mempertahankan cinta pertamanya.
    Alvent menutup mata, dalam gelap itu dia berharap bahwa rasa sakit itu segera pergi. Pergi dan hilang entah kemana.
    Siang itu cuaca begitu teduh. Sinar matahari tak begitu menyengat di kulit. Angin pun bertiup sepo-sepoi. Vita yang duduk santai di taman itu tersenyum memandangi seorang laki-laki yang sedang tidur di bawah pohon mangga. Entah bagaimana bisa dia bisa bertemu dengan laki-laki yang sedang dicarinya. Vita mendekat dan duduk persis di samping laki-laki itu. Laki-laki yang di phonebook nya bernama Alvent dengan simbol hati. Vita mengangkat tangannya, ingin menyentuh hidung Alvent tapi tangan itu berhenti diudara ketika melihat laki-laki dihadapannya ini sudah membuka mata.
    “Sorry.” Vita buru-buru menarik tangannya. Meremas-remasnya gugup.
    Alvent tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Vita. Dia melihat Vita ingin menyentuh hidungnya. Kebiasaan Vita yang entah mengapa membuat Alvent senang. Dia senang jika Vita menyentuh hidungnya. Dengan cepat Alvent bangun dan duduk di samping Vita yang sedang gugup.
    Alvent sengaja tetap diam. Dia tak ingin mengatakan apa-apa kali ini. Baginya mengetahui bahwa Vita ada di sampingnya sudah membuatnya bahagia. Dia sudah bahagia kali ini. Ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya yang membuat rasa sakitnya memudar.
    Vita juga ikut diam. Bahkan dia tak berani melihat Alvent. Dia sangat malu. Tapi jika dia terus menerus diam akan sampai kapan?
    “Yang tadi sorry ya, gue nggak maksud apa-apa kok,” kata Vita dengan cepat. Nadanya tak beraturan.
    Alvent tersenyum, geli jika melihat Vita sedang gugup.
    “Nggak masalah.”
    “Gue boleh tanya sesuatu nggak?”
    Alvent menaikkan salah satu alisnya. “Apa?”
    Vita menggigit bibirnya. Dia ragu untuk sesaat.
    “Elo yang namanya Alvent ya?”
    Alvent tersenyum getir. Dia sudah menduga. Vita belum mengingatnya atau mungkin Vita memang benar-benar tidak ingin mengingatnya.
    “Iya. Gue Alvent. Kenapa emang?” katanya mulai dingin menanggapi Vita.
    Vita tampak bersalah setelah melihat ekspresi Alvent. Ada kekecewaan di mata laki-laki itu.
    “Gue salah tanya ya? Kok mukanya nggak enak gitu sih?”
    Alvent memandangi Vita. Dia begitu menyayangi gadis itu bahkan sampai saat ini. Walaupun Vita melupakannya.
    “Enggak kok. Gue nggak enak badan aja. Ada yang mau ditanyain lagi?”
    Vita menggeleng lemah. Dia sudah tak berani menanyakan apa-apa pada Alvent. Entah mengapa dia takut jika membuat laki-laki itu terluka tapi jika dia tak bertanya dia tak akan tahu ada hubungan apa dia dengan Alvent.
    “Keliatannya nggak ada. Gue pergi dulu kalo gitu.”
    Alvent bangkit, membersihkan celana lalu melangkah meninggalkan Vita yang masih duduk kaku di tempatnya.
    Alvent tetap melangkah sampai ada seorang gadis yang menyamai langkahnya. Dia berhenti ternyata Vita mengikutinya.
    “Kenapa ngikutin gue?” tanyanya heran.
    Vita hanya tersenyum saat Alvent bertanya. Dia harus mengetahuinya sekarang.
    “Gue mau tanya lagi. Ikut gue bentar.”
    Vita mengapit lengan Alvent dan menariknya ke bangku terdekat. Vita mengambil handphonenya dan menunjukannya kepada Alvent. Sedangkan Alvent merasa bingung saat Vita menyodorkan benda mungil itu. Dilihatnya ada namanya di layar handphone Vita.
    “Apaan nih? Elo mau ngasih hape ini ke gue? Sorry gue bisa beli sendiri.” Alvent menyerahkan kembali benda itu ke Vita dan bangkit.
    “Bukan.”
    Vta buru-buru memegang tangan Alvent. Mencegah laki-laki itu pergi lagi.
    “Liat deh,” Vita kembali mempelihatkan hanphonenya kepada Avent. “Ini nomor elo kan?”
    Alvent mengangguk. Benar itu memang itu nomornya.
    “Tapi yang bikin gue bingung, gue ngerasa nggak pernah kenal sama elo dan satu lagi gue ngesave nomornya pake tanda hati gini. Aneh nggak sih?”
    Pertanyaan tadi begitu menusuk Alvent pada titik sensitifnya. Menusuk dan menghantamnya dengan telak.
    “Seinget gue ya, gue nyimpen nomor yang pake hati gini buat nyimpen nomor Hendra soalnya dia pacar gue.”
    Vita masih melanjutkan kata-katanya tanpa melihat Alvent. Tanpa melihat bahwa laki-laki itu sudah ingin marah dan berteriak di hadapan Vita. Frustasi dengan sikap Vita yang dengan mudah menghapusnya dari hidup gadis itu.
    “Sebenernya kita ada hubungan apa sih?”
    Alvent melepas tangan Vita yang masih memegang lengannya dan mengembalikan hanphone gadis itu.
    “Kita temenan.”
    “Nggak mungkin kalo cuma temenan. Gue cuma bakal nyimpen nomor pake tanda hati gini buat orang yang gue sayang.”
    Alvent memalingkan pandangannya dari Vita. Dia tak tahu harus bagaimana.
    “Siniin hapenya.”
    Alvent merebut kembali benda itu lalu menekan-nekan tombolnya dan mengembalikannya kepada Vita.
    “Nomor gue udah gue hapus dari phonebook lo. Anggep aja kita nggak pernah kenal dan anggep kalo kejadiaan ini nggak pernah kejadian. Masalahnya selesekan?”
    Alvent tersenyum lalu meninggalkan Vita. Langkahnya cepat-cepat. Matanya terasa panas. Dia ingin menangis. Dan di tengah keramaian siang itu air mata Alvent mengalir juga. Jatuh satu demi satu walaupun sudah disekanya. Telah ditahannya. Tapi kesedihan itu tak bisa dihindarinya. Ternyata seperti ini rasa sakitnya. Sakit yang benar-benar sakit. Cinta yang diharapkan menumbuhkan bulir-bulir kebahagian ternyata hanya bisa menjatuhkan kepedihan.


   


Sabtu, 15 September 2012

Sandiwara Cinta #4


Sandiwara Cinta
Part 4

***

            “Keren lo Vit. Nih mobil gue buat elo.”
            “Yakin?” kata Vita tak percaya saat Nitya menyodorkan kunci mobil BMW nya.
            “Iyalah. Elokan menang taruhan. Elo ingetkan taruhan kita dulu?”
            Vita terhenyak lalu dengan ragu dia mengangguk.
            “Nggak nyangka kita bisa mainin playboy cap kampung itu,” timpal Greys dengan geleng-geleng kepala.
            Vita ikut tertawa bersama mereka. Ya dia memang sedang taruhan dengan teman-temannya untuk menyakiti Hendra jagoan sekolah mereka dan sekarang misi mereka berhasil.
            “Jadi gue barang taruhan elo semua?” suara yang berat itu mengagetkan Vita dan teman-temannya. Ternyata Hendra sudah ada di antara mereka entah dari kapan.
            “Brengsek ya lo Vit. Gue udah tulus cinta sama elo malah kayak gini balesannya?”
            Vita hanya diam dan menunduk mendengar makian dari Hendra. Air matanya sudah meleleh.
            “Aku bisa jelasin sama kamu.”
            “Aku nggak butuh penjelasan dari kamu!”
            Hendra pergi dari hadapan Vita dengan langkah cepat-cepat. Hatinya sakit mendengar semuanya. Semua yang telah diucapkan oleh Vita tadi begitu dalam. Perih. Sakit.
            “Dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya.”
            Vita mengekor di belakang Hendra. Beribu maaf telah terucap dari bibirnya tapi tak sedikitpun Hendra meliriknya. Langkahnya yang tegas dan cepat tak bisa diimbangi Vita.
            Braakkk!!!
            Hendra tercekat mendengar suara itu. Ditengokannya kepalanya ke belakang. Vita masih ada di belakangnya. Tapi gadis itu sudah diam di tempatnya. Dia tak lagi mencegah Hendra untuk pergi, Vita sudah tak meminta Hendra untuk mendengarkan penjelasannya. Gadis itu terkapar di tengah jalan dengan darah yang bercucuran diantaranya. Hendra tercekat melihatnya. Vita sudah tak bergerak di depan sebuah mobil bak hitam.

***

            Alvent masih menunggu Vita di ruang perawatan kampusnya. Di sana juga ada Hendra dan Age. Mereka sedang menunggu Vita siuman. Dilihatnya gadis itu terbaring di kasur. Begitu lemah dan ringkih. Betapa menyesalnya Alvent menyakiti Vita. Sedalam itukah dia melukai?
            “Emm.. emm..”
            Igauan Vita membuat Alvent, Hendra dan Age memperhatikan gadis itu. Tangannya bergerak-gerak dan beberapa detik kemudian kelopak mata Vita membuka perlahan. Vita mulai bangun setelah dua jam tak sadarkan diri.
            Vita membuka matanya perlahan. Kepalanya sedikit pusing melihat pantulan lampu yang menyorot matanya. Begitu terang.
            “Hendra,” katanya dengan suara yang sedikit parau tapi wajahnya begitu senang melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Buru-buru dia mencoba untuk bangkit dari posisinya tapi tubuhnya tak kuat untuk menopang.
            “Jangan dipaksa kalo belum bisa,” ujar Hendra yang langsung membantu Vita untuk duduk. Jatungnya begitu berdebar melihat Vita sedekat ini.
            “Makasih.”
            Vita tersenyum. Tapi dia juga heran melihat dua orang yang berdiri di ruang itu juga. Dua orang laki-laki yang tak dikenalnya.
            “Mereka temen mu?”
            Hendra menoleh melihat Alvent dan Age. Memang benar mereka teman-temannya, tapi Vita bertanya seolah tak kenal dengan mereka.
            “Kamu nggak kenal sama mereka?”
            Vita menggeleng.
            “Beneran?”
            Vita mengamati dua orang asing itu. Dia benar-benar tak mengenaalinya sedikitpun. Vita menggeleng lagi.
            Hendra menghirup nafas dengan berat lalu dihembuskannya lagi.
            “Kamu udah nggak marahkan sama aku?”
            Pertanyaan Vita membuat Hendra mengerutkan keningnya. Marah?
            “Aku bisa jelasin semuanya Hend. Aku nggak bermaksud mainin kamu. Aku bener-bener sayang sama kamu.”
            Kata-kata itu bergulir dengan manis dari bibir Vita. Kata-kata yang menusuk hati Alvent sampai bagian terdalamnya. Apa maksud semua ini? Begitu banyak kejutan untuk hari ini. Vita tak mengenalinya bahkan gadis yang dicintainya mengatakan bahwa dia menyayangi Hendra. Sakit. Amat sakit.
            Alvent pergi dari ruangan itu. Dibantingnya pintu ruangan itu. Dadanya bisa menjadi lebih sesak jika dia masih berada di dalam sana. Obrolan dan adegan yang terjadi di sana begitu membuat Alvent naik pitam. Semua ini begitu tak masuk akal baginya.
            Hendra masih di dalam bersama Vita. Setelah Alvent keluar tak lama Age juga ikut pergi dari sana. jadi sekarang hanya ada Hendra dan Vita di ruang itu.
            “Temen mu tadi kenapa sampe banting pintu segala?”
            “Nggak tau tuh.”
            “Namanya siapa?”
            “Siapa?”
            “Temen mu tadi yang banting pintu.”
            “Oh, Alvent. Kamu gimana udah baikan?”
            Hendra mengalihkan pembicaraan. Dia tidak suka jika harus membahas Alvent.
            Vita mengangguk dan tersenyum. Dia senang bisa melihat wajah Hendra. Seperti sudah lama dia tak menatap wajah laki-laki yang disayanginya ini.
            “Dulu, pertamanya emang aku buat kamu barang taruhan tapi ternyata aku dapet karma, aku jadi bener-bener sayang sama kamu,” ujar Vita yang terus menatap Hendra. Entah mengapa ada yang berbeda dari Hendra. Ada rasa yang kosong dan hambar saat dia mengucapkan itu semua tapi biarlah mungkin karena kecelakaan kepalanya jadi sedikit agak melenceng.
            “Hend,”
            “Mmm?”
            Vita diam sebentar. Ditundukan kepalanya.
            “Kamu tetep mau jadi pacarku kan?”
            Hendra diam menatap Vita. Inilah hal yang ditunggunya. Vita ternyata benar-benar sudah kembali. Ingatan gadis itu sudah mengenali siapa dirinya. Sudah tidak ada Alvent lagi, sekarang dia bebas memiliki Vita seperti yang dia harapkan. Tapi saart hal yang sangat diinginkannya sudah ada dihadapan matanya ada sesuatu yang telah dilupakan Hendra belakangan ini. Dia melupakan Yana. Dia melupakan seseorang yang sudah mengisi sebagian hati yang ditinggalkan Vita dulu. Setelah Vita kembali menempatinya apakah Hendra harus membuang Yana?
            “Gimana Hend?”
            Wajah Vita begitu menggetarkan hatinya. Meruntuhkan kebimbangannya. Dia tak bisa melepaskan Vita lagi. tidak untuk kedua kalinya.
            “Iya. Aku tetep pacar kamu,” ucapnya kemudian. Biarlah Yana menjadi urusan nanti. Biar takdir yang menyelesaikannya.
            Vita tersenyum lalu memeluk Hendra erat. Getaran itu mulai kembali.
            Setelah mendengar cerita dari Age, Alvent kembali ke ruang perawatan itu dan melihat adegan itu dari celah pintu. Dia hanya tersenyum getir. Vita sudah menjadi milik Hendra. Dia sudah kembali ke dunianya yang nyata. Ternyata Alvent hanya ilusi dalam hidup Vita. Alvent berbalik lalu berjalan menjauhi ruangan itu dengan sedikit menyeret langkahnya. Hendra dan Vita. Apakah akan ada yang terluka lagi?

 ***

Bersambung...