"Kamu mau masuk mana?"
"Nggak tau. Kalo kamu?"
"Nggak tau juga. Bingung nih."
Frekuensi percakapan kayak gini nih yang sekarang sering kedengeran di kalangan anak kelas dua belas. Kalo dulu, waktu pertama jadi senior yang paling tua masih santai-santai aja nanggepinya, tapi sekarang udah deh pada garuk-garuk kepala yang nggak gatel kalo ditanya kayak gitu. Yang nilainya bagus sama udah tau mau kemana pasti tinggal senyum-senyum aja, tapi kalo yang nilainya pas-pasan dan nggak tau mau kemana kayak gue ini harus gimana coba?
Anak ipa tapi pengennya ngambil jurusan anak ips, emang tabiat anak ipa pada akhir masanya haha. Tapi jalur undangan ini menjadi cobaan bagi anak abal-abal kayak saya ini. Peraturan yang nggak ngebolehin siswanya lintas jurusan memang benar-benar menambah kegalauan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Kalo diisi, bingung mau ngisi apa. Kalo nggak diambil, eman-eman banget, nah kalo udah diisi dan ternyata ketrima malah bikin pusing. Bingung kan jadinya?
Ada kabar bahagia juga sih buat anak ipa yang pengen lintas jurusan, ternyata oh ternyata UI sama UGM menerima siswa yang mau mendaftar lintas jurusan. Seneng nggak dengernya? Kalo gue sih seneng! Apalagi UI, kampus impian gue dari dulu. Belajar ilmu komunikasi di UI, pake jaket kuning yang membanggakan itu. Wah nggak kebayang senengnya. Sayangnya, gue nggak boleh kuliah di luar Semarang. Sedih? Jelas! Dongkol? Banget! Itu benar-benar seperti mengkerdilkan impian seorang anak manusia. Ya walaupun ada alesannya sih tapi kalo impian dilarang pastilah bakal kecewa.
Sering kita nyalahin orang tua karena nggak ngebolehin apa yang kita mau. Nolak keinginan kita atau bahkan sampe marah. Alesan ini itu dijelasin ke kita. Tapi, ya namanya anak. Watak muda, mau gimanapun kita nggak bakal mau ngerti alesan itu. Bahkan sampe kita udah punya ktp pun kita masih diatur-atur sama orang tua. Bener nggak? Kayak yang gue alamin sekarang. Orang tua ngelarang kuliah di luar kota. Alesannya sih karna Jakarta itu jauh, gue cewek. Padahal gue yakin bisa hidup mandiri, tapi ternyata pandangan orang tua gue nggak percaya sama yang bisa gue lakuin. Dan berbagai alesan lagi yang bisa gue tanggepin sambil merelakan satu mimpi harus gue tunda, inget gue TUNDA bukan gue MATIIN, karna gue yakin kalo gue nggak bisa sekolah di UI untuk saat ini, mungkin dimasa yang akan datang gue bisa ambil S2 di sana. Who's know?
Dan dari ini gue tau, orang tua punya alesan buat ngatur kita yang sampe kapapun kita sebagai anak nggak bakal bisa ngerti kecuali nanti kalo kita udah diposisi mereka, jadi orang tua yang bakal khawatir sama setiap langkah anak-anaknya.
Walaupun nggak di UI, gue bakal tetep ngejar impian gue yang lainnya, mimpi-mimpi yang bisa gue raih dimana aja dan jurusan nanti yang dipilihin Allah, gue harap bisa bikin gue seneng entarnya, bikin gue punya passion, cukup ya gue sekolah dengan peraturan yang kolot selama ini, gue pengen belajar dengan bahagia, nggak cuma ada tugas yang bikin gue pusing.
Ya walau entar gue masuk jurusan yang bukan passion gue, semoga gue bisa menikmati itu...
SELAMAT DATANG
Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Januari 2013
Selasa, 25 Desember 2012
Pengorbanan Untuk Cinta #3
Pengorbanan Untuk Cinta
Part 3
***
Vita merasa sedikit lebih senang hari ini. Bukan hanya
karena dia sudah ikhlas menerima semua yang terjadi juga karena gadis itu bisa
kembali ke kampusnya. Menjalani rutinitasnya seperti sedia kala. Walau dia tau
ini tak akan berlangsung lama karena setelah semuanya siap gadis itu akan
mengasingkan diri dari lingkungannya sekarang.
“Weh saudari Vita akhirnya muncul juga,” ledek Age
sahabat Alvent yang sedang nongkrong di kantin bersama yang lain.
Vita tersenyum simpul. Dibuntuti Alvent di belakangnya
dia ikut nimbrung bersama teman-temannya.
“Udah lama gue nggak liat lo Vit, tambah subur aja,”
sekarang giliran Hendra yang menyela Vita. Maklumlah setelah kejadian yang
memilukan itu Vita menghilang dari kampus selama dua minggu.
“Enak aja lo,” bela Vita sembari melemparkan tisu yang
sebelumnya diremas-remasnya. “Gue slim gini dibilang subur.”
“Slimpitan lemak kali,” cela Hendra lagi yang mengundang
tawa di antara mereka. Memang seperti ini suasana jika mereka sedang berkumpul.
Pasti ada saja orang yang dibully dan sekarang giliran Vita, mungkin karena
mereka rindu dengan sosok Vita yang ceria.
“Ngaco lu Ndra,” Yana memukul lengan Hendra.
“Tapi beneran loh Vit elo sekarang gendut deh,” kata Age
lagi yang melihat tubuh Vita dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. “Elo diapain
Alvent sampe gendut kayak gini?” tanyanya dengan menatap Vita. Menggoda sahabatnya
itu.
Vita salah tingkah. Jika dihitung-hitung kandungannya
memang sudah memasuki usia satu bulan dan itu cukup membuat perubahan bentuk
tubuhnya walau sedikit.
“Kalo ngomong dijaga,” ujar Alvent dingin. entah mengapa
dia tak suka dengan ucapan Age walau dia tau jika sahabatnya itu hanya bercanda
tapi dia tak ingin sahabat-sahabatnya itu tau jika dia sudah berbuat tak
senonoh bersama Vita.
Vita hanya menatap Alvent yang raut mukanya berubah
menjadi dingin. diikutinya Alvent yang duduk di samping Hendra.
“Emang gue mau ngapain sama dia coba,” kata Vita mencobba
menyudahi obrolan tak bermutu itu.
“Siapa tau elo hamil.”
Satu pernyataan dari Hendra benar-benar membuat suasana
di sana menjadi mencekam. Bagi Hendra dan Age yang tak tau apa-apa mungkin tak
merasakannya. Tapi bagi Alvent dan Vita itu benar-benar kalimat yang tak
seharusnya diucapkan Hendra. Polosnya keterlaluan.
Yana menghembuskan nafasnya. Pasrah jika pacarnya ini
ternyata benar-benar tak tau kondisi.
“Jangan didengerin tuh ucapan Hendra, dia kan orangnya
suka ngaco. Kalo ngomong nggak difilter dulu,” kata Yana yang berusaha membuat
keadaan menjadi lebih baik. “Jangan didenger ya Vit, elo tau kan Hendra kalo
akhir bulan gini otaknya agak geser gara-gara duit kirimannya abis?”
Vita tersenyum lalu mengangguk. Dia tau Yana sedang
berusaha membuat semuanya lebih baik.
“Vit, ikut gue bentar yuk,” ucap Greys yang tiiba-tiba
menarik tangan Vita. “Elo, elo dan lo juga ikut sama gue,” lanjutnya lagi
sembari menunjuk Pia, Nitya dan Yana bergantian. Dan dalam sesaat kelima
sahabat itu menghilang dari kantin.
Greys baru melepaskan gandengannya saat mereka semua
sampai di depan toilet. Ditatapnya Vita dengan seksama seperti saat Age tadi
memandangi Vita.
“Bener kata Age lo sekarang gendut,” katanya kemudia
dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Vita tersenyum. Dia baru sadar jika di antara mereka
hanya Yana yang tau jika dia tak benar-benar menggugurkan janinnya.
“Iyalah, gimana nggak tambah gendut coba, dia makan mulu
kemaren,” seloroh Nitya yang melihat dengan kedua mata kepalanya jika aktivitas
Vita selama dua minggu hanya makan dan bermalas-malasan di rumah.
“Diet ah kak, jelek tau kalo gendut,” timpal Pia yang tak
suka melihat Vita menjadi gendut.
Yana yang mendengar itu semua hanya bisa tertawa. Juga dengan
Vita yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masa orang hamil di suruh diet,” kata Vita dengan
mencubit pipi Pia saking gemasnya dia kepada sahabat yang sudah dianggapnya
seperti adek sendiri itu.
“Hamil?” kata Greys, Pia dan Nitya bersamaan. Mereka menghujani
Vita dengan tatapan penuh dengan permintaan penjelasan.
“Iya,” jawab Vita singkat.
Nitya yang melihat keanehan pada diri Yana langsung
menatap gadis berwajah oriental dengan rambut pendek itu tajam. Melihat Yana
hanya tertawa saat mendengar Vita hamil dia yakin jika ada yang tak beres dalam
diri Yana.
“Kok lo ketawa sih Na?”
Yana terkesikap mendengar pertanyaan Nitya, ternyata
sahabatnya itu menyadarinya juga.
“Lo udah tau ya?” tanya Nitya lagi.
Yana menganggukan kepalanya. “Udah tau dari dua minggu
yang lalu.”
“Curaaangg!!!!” koor Greys, Pia dan Nitya bersamaan. Mereka
langsung memukuli Yana dengan segala jurus andalan masing-masing yang membuat
Yana hanya bisa meringkuk di tempatnya.
“Eh udah dong, kasian itu anak orang dikeroyok gitu,”
Vita mencoba melerai adegan berantem itu. Tapi bukannya pisah, Vita jadi
ikut-ikutan menjadi objek bullyan selanjutnya.
“Iya salah lo juga, makannya lo harus dihukum,” kata
Nitya yang mencoba menggelitiki Vita.
Dan adegan itu berubah menjadi arena canda tawa. Begitu lepasnya
mereka sampai tak tahu jika sedaritadi ada seseorang yang melihatnya. Melihat dan
mendengar semuanya dengan jelas. Memperhatikan setiap detil yang terjadi dari
jarak yang begitu dekat.
“Hebat banget!” kata orang itu yang membuat kelima gadis
di depannya berhenti tertawa. Menghentikan kebahagiaan mereka. Melenyapkan setiap
tawa yang keluar saat melihat siapa orang yang hadir di antara mereka.
“Ngebohongin aku dan ngebuat aku menjadi sangat bersalah
setelah kejadian itu. Hebat!” katanya lagi yang masih menatap kelima gadis di
depannya. Tapi matanya sekarang tertuju kepada satu orang di antarnya. Memandang
dengan dingin dan tajam pada Vita. Mengunci pergerakan gadis itu.
“Puas?” tanyanya lagi.
Vita gemetaran. Alvent tiba-tiba muncul di hadapannya. Rahasianya
juga ikut terbongkar saat itu juga. Sia-sia saja jika dia ingin menyanggah.
“Kamu sekarang ikut aku. Kita pergi ke dukun anak dan
gugurin janin itu.”
Vita terkejut dengan kalimat Alvent. Ternyata Alvent
benar-benar ingin melenyapkan janin itu. Melenyapkan calon anaknya.
“Nggak akan!” kata Vita tegas. Matanya yang berkaca-kaca
sedang menandingin tatapan Alvent yang dingin dan penuh amarah itu. “Cukup
kemaren dan itu nggak akan terulang lagi.”
Alvent meradang. Digenggamnya pergelangan tangan kiri
Vita dan ditariknya Vita bersamanya. Membawa Vita ikut bersamanya.
“Nggak mau Vent,” Vita meronta, berusaha lepas dari
genggaman Alvent.
Alvent tak menggubris. Kekuatan gadis itu tak sebanding
dengannya. Sekuat apapun Vita mencoba meronta maka sekuat itu juga Alvent akan
menahannya.
“Lepasin Vita!” kata Yana yang ikut berusaha melepaskan
tangan Alvent pada pergelangan tangan Vita.
Alvent mendorong Yana. Membuatnya tersungkur. “Ini
masalah gue sama Vita. Jangan ikut campur! Gue peringatin, elo ikut campur
sahabat lo ini bakal celaka!”
Alvent melangkah lagi. Menarik Vita yang sedikit melunak.
Meninggalkan Yana, Nitya, Greys dan Pia yang hanya bisa meratapi kepergian
mereka.
“Jangan paksa aku buat buang anak ini,” kata Vita lemah
yang membuat Alvent menghentikan langkahnya. Berbalik dan memandang Vita. “Kalo
kamu nggak mau akuin nggak papa, aku nggak maksa kamu buat tanggung jawab sama
aku.”
Alvent menyimak perkataan Vita dengan seksama. Ditatanya bola
mata Vita yang hitam itu. Tatapan yang penuh dengan permintaan.
“Enggak!” Alvent menggelengkan kepalanya. Dilepaskan genggaman
tangannya dan dipegangnya kedua bahu Vita. “Aku sayang sama kamu. Aku belum
siap buat ini semua. Aku mohon gugurin janin itu.”
Alvent meluruh dihadapan Vita. Memohon dengan segenap
jiwanya. Meminta kepada wanita yang dikasihinya ini jika dia benar-benar tak
menginginkan keberadaan janin yang berada di perut Vita.
Vita menggeleng. Pandangannya masih tertuju pada Alvent,
air matanya meluruh bersamanya lalu dengan perlahan diturunkannya tangan Alvent
yang sedang memegang pundaknya lalu digenggam kedua tangan itu dengan lembut.
“Aku baik-baik aja tanpa kamu. Percaya. Aku yang milih
ini semua. Kamu nggak perlu tanggung jawab.”
Lalu Vita memeluk Alvent. Lembut dan dalam. Mungkin pelukan
yang terakhir kalinya. Ini yang dipilih olehnya. Dia akan melepaskan Alvent
untuk melindungi janinnya. Melindungi yang lebih berarti dalam hidupnya. Karena
dengan dia memilih janin yang ada di perutnya maka dia juga bisa memiliki
Alvent setengahnya. Memiliki Alvent yang akan hidup bersama anaknya kelak.
“Kalo kamu mau itu aku turutin,” bisik Alvent yang masih
mendekap Vita. Ditelungkupkan kepalanya pada pundak Vita. Air matanya meleleh
di sana. Membasahi sebagian baju Vita. “Tapi maaf, aku nggak bisa temenin kamu
lagi,” bisiknya lagi dengan suara yang parau.
Vita menangis mendengarnya. Dia tau jika ini akan
terjadi.
“Iya nggak papa, aku tau kok,” balasnya yang semakin erat
memeluk Alvent. Merasakan untuk sesaat sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Bersama air mata yang meluruh. Alvent dan Vita memilih
jalan masing-masing. Air mata yang menjadi saksi kesedihan jalan yang harus
dihadapi keduanya. Takdir yang akan dibuat oleh masing-masing bahwa sekarang
mereka tak bisa satu jalan, harus ada yang mengalah walau itu sama-sama akan
membuat semuanya terluka.
Vita mengurai pelukannya lalu menatap Alvent lembut. “Boleh
aku minta satu permintaan?”
Alvent mengusap air matanya lalu mengangguk. “Apa?”
Vita mengatur nafasnya. “Untuk yang pertama dan terakhir
kalinya, aku minta kamu ngusap perut aku dan nyium perut aku,” ujar Vita yang
penuh dengan permohonan itu.
Alvent menutup matanya sesaat lalu menyerahkan tubuhnya
kepada bumi. Menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Menjajarkan wajahnya kepada perut
Vita yang baru disadarinya mulai membuncit. Diusapnya perut itu dengan pelan
lalu diciumnya beberapa menit. Membiarkan wajahnya yang penuh dengan air mata
itu jatuh ke dalam perut Vita. Menikmati sesaat sebelum pergi dan melepas
tanggung jawab.
Makasih Vent. Aku bakal
pergi dan jaga dia. Aku bakal mencintai anak ini kayak aku mencintaimu.
***
TAMAT
***
Senin, 24 Desember 2012
Kangen
aaaaa entah kenapa diriku pengen nulis ini. KANGEN!!!
bukan kangen sama cowok atau idaman hati ya, gue kangen sama self nih. kelas gue sebelumnya. kelas sebelas yang udah setengah tahun pisah. nggak kebayang ya bro kalo udah lama nggak sekelas lagi. semua udah punya kelas baru. bahkan kita tinggal beberapa bulan lagi ada di smala. un nyari universitas terus mencar deh semuanya. ada yang di luar kota tapi ada juga yang betah di semarang.
kalo ngomongin kelas yang seru, gue milih self, mungkin diantara kaian yang anak self ada yang nggak suka kelas ini dan milih kelas 12 kalian, it's okay, semua kembali pada pribadi masing-masing. tapi kalo gue masih nyaman di self. entah kenapa gue suka aja suasana kelas itu. gimana kita belajar bareng, ketawa, ke bali juga kalo ngasih kue buat yang ulang tahun, ya walaupun nggak semua sih, tapi itu sumpah nyenengin banget.
kangen bu endah, kangen semua temen, kangan gimana gue duduk bareng Lily, kangen gimana cita sama tandon yang duduk di sebrang gue yang sifatnya konyol abis, kangen sama candaannya akbar yang nggak masuk akal tapi bikin ketawa, kangen derrick yang suka 'berantem' sama mukhlis, aaaa kangen mampus deh pokoknya haha
miss you all guys :D
peluk dan cinta buat kita semua :)
bukan kangen sama cowok atau idaman hati ya, gue kangen sama self nih. kelas gue sebelumnya. kelas sebelas yang udah setengah tahun pisah. nggak kebayang ya bro kalo udah lama nggak sekelas lagi. semua udah punya kelas baru. bahkan kita tinggal beberapa bulan lagi ada di smala. un nyari universitas terus mencar deh semuanya. ada yang di luar kota tapi ada juga yang betah di semarang.
kalo ngomongin kelas yang seru, gue milih self, mungkin diantara kaian yang anak self ada yang nggak suka kelas ini dan milih kelas 12 kalian, it's okay, semua kembali pada pribadi masing-masing. tapi kalo gue masih nyaman di self. entah kenapa gue suka aja suasana kelas itu. gimana kita belajar bareng, ketawa, ke bali juga kalo ngasih kue buat yang ulang tahun, ya walaupun nggak semua sih, tapi itu sumpah nyenengin banget.
kangen bu endah, kangen semua temen, kangan gimana gue duduk bareng Lily, kangen gimana cita sama tandon yang duduk di sebrang gue yang sifatnya konyol abis, kangen sama candaannya akbar yang nggak masuk akal tapi bikin ketawa, kangen derrick yang suka 'berantem' sama mukhlis, aaaa kangen mampus deh pokoknya haha
miss you all guys :D
peluk dan cinta buat kita semua :)
Pengorbanan Untuk Cinta 2
Pengorbanan Untuk Cinta
Part 2
***
Masih seperti biasa, hari-hari Vita berjalan seperti
tidak terjadi apa-apa. Dimata seluruh anggota keluarga juga teman-teman kampus
tak ada yang berbeda dari sosok Vita Marissa. Masih gadis yang cantik, ceria
juga baik hati. Gadis yang diidolakan oleh lawan jenisnya. Tapi bagi para
sahabatnya tidak ada yang bisa ditutupi oleh Vita. Dia tak pandai berbohong di
depan Yana, Nitya, Greys maupun Pia. Bahkan kata-kata ‘baik-baik saja’ terasa
lebih memilukan daripada keadaan sebenarnya. Menyedihkan.
“Hey,” sapa Vita kepada keempat sahabatnya yang sore ini
datang ke rumahnya.
Pia yang berumur paling muda di antara mereka langsung
menghambur kepelukan Vita setelah si empu rumah membuka pintu. Pia mendekap
Vita erat. Dia hanya ingin seperti ini untuk sekarang. Memeluk sahabatnya yang
sedang melewati masa tersulit dalam hidupnya. Mencoba menjadi sahabat yang
semestinya. Sahabat yang seharusnya ada di kala senang dan susah.
“Yang kuat ya kak,” kata Pia yang masih memeluk Vita. Pia
selalu seperti itu, memanggil yang lain dengan sebutan ‘kak’.
Vita mengangguk. Dan entah dorongan darimana, Nitya,
Greys dan Yana ikut memeluk Vita. Menguatkan salah satu dari mereka. Memberi sandaran
kepada Vita. Lalu setelah itu, tanpa dikomando, semua mengalir begitu saja sore
itu. Seluruh kisah memilukan pada malam itu. Sesuatu yang harus merubah masa
depan Vita. Malam yang terlalu singkat untuk merelakan harga diri. Kenyataan yang
membawa Vita menuju jalan yang benar-benar gelap. Juga tentang sebuah rahasia
yang harus disimpan.
Kempat sahabat itu mendengarkan dengan seksama kata demi
kata yang keluar dari mulut Vita. Cerita yang benar-benar membuat jantung
mereka berdetak dengan frekuensi lebih cepat. Membawa suasana menjadi tegang. Bahkan
Pia harus meremas tangan Yana yang ada di sebelahnya saat Vita menceritakan
bagian dimana dia harus kehilangan kebanggaan dari seorang gadis.
“Jadi gue udah nggak perawan lagi,” kata Vita berat
diakhir cerita. Sesuatu yang sungguh menohok dirinya sendiri. Kenyataan yang
benar-benar tak bisa diulangi lagi.
Setelah kalimat itu suasana menjadi hening. Kelima sahabat
itu sibuk dalam pikiran masing-masing. Greys mengusap air matanya. Yana
memalingkan wajahnya. Nitya menunduk sedangkan Pia menatap Vita yang sedang
melihat langit yang berubah warna dengan semburat jingganya. Vita gadis yang
paling tegas di antara mereka. Seseorang yang paling disegani karena prinsip
hidupnya yang kuat. Tapi semuanya lenyap begitu saja. Menguap tanpa tersisa. Karena
semua itu manusiawi. Hidup tak segampang menulis keinginan di kertas putih, ada
banyak hal yang bisa merubah angan-angan.
***
Kadang hidup itu
susah ya. Udah diperhitungin baik-baik ternyata bisa meleset juga.
Pagi yang tak secerah biasanya. Sedikit awan hitam
menggantung di langit kota Jakarta. Tapi Alvent tak menggubris itu semua. Setelah
memarkirkan mobil hitam kesayangannya, dia berjalan dengan santai di koridor
kampus. Menikmati cuaca Jakarta yang tak begitu panas. Berjalan dengan
bersenandung pelan. Begitu bahagianya dia pagi ini. Semua masalahnya dengan
Vita telah selesai. Tak ada yang perlu dipertanggung jawabkan lagi. Janin itu
telah lenyap dari perut Vita. Jadi sekarang dia bebas. Bisa bermain dan
berpetualang lagi. Senyum simpul menghiasi wajahnya setelah memikirkan hal itu.
Alvent memang terkenal bad boy di
kampus. Anak orang kaya yang senang menghambur-hamburkan uang, mengencani
banyak wanita, penebar harapan-harapan palsu, juga pecandu party. Tapi jika untuk seks bebas, dia bukan tipikal seperti itu. Jika
dia bisa melakukannya dengan Vita, itu memang murni atas dasar cinta. Vita
adalah wanita pertama yang tidur dengannya dan dia memang hanya ingin tidur
dengan Vita dalam hidupnya. Wanita yang benar-benar dicintainya. Tapi cara
Alvent salah. Dia tak tahu bagaimana menghormati wanita yang dicintainya itu. Bahkan
dia tak sadar jika telah membuat Vita benar-benar hancur dengan cinta yang
diberikannya. Hancur, berkeping-keping dan berantakan.
“Heh bajingan!” seorang gadis berteriak di depan Alvent. “Cowok
brengsek!” lanjutnya lagi yang mendekati Alvent. Tapi ada tiga orang lainnya
yang membuntuti gadis itu. Empat orang yang sangat dikenal Alvent. Para sahabat
Vita.
Bug!
Satu tonjokan mendarat di perut Alvent dari Yana.
“Ini buat keperawanan Vita yang ilang,” desis Yana tepat
di depan muka Alvent.
Bug! Sekarang giliran pipi Alvent yang mendapat hantaman
dari Yana.
“Ini buat sikap lo yang pengecut!”
Plak! Tamparan dari Greys di pipi kanan Alvent, tempat
yang sama saat Yana memberi tonjokan tadi.
“Ini buat calon anak yang nggak lo akuin,” kata Greys
setelahnya.
Alvent hanya bisa terdiam di tempatnya melihat Yana dan
Greys yang menjadi liar seperti ini. Walaupun tonjokan dan tamparan tadi tak
begitu keras dan menyakitkan tapi kata-kata yang diucapkan setelahnya membuat
Alvent sedikit bergidik. Pengecut?
“Gue bilangin ya, semua yang terjadi itu nggak murni
kesalahan gue, Vita juga mau kok nyerahin keperawanannya sama gue,” kata Alvent
dingin. sedikit menyanggah dan membela diri. Matanya yang hitam tampak menyala
saat melihat keempat orang di hadapannya.
“Kalo lo mau marah jangan sama gue doang, Vita juga patut
lo marahin. Jadi cewek kok murahan,” lanjutnya lagi yang benar-benar membuat
kumpulan gadis di depannya meradang.
Yana mengepalkan tangannya. Cewek murahan? Vita cewek
murahan?
Bug!
Satu pukulan mendarat lagi di pipi kanan Alvent. Kalo yang
sekarang benar-benar menyakitkan. Pukulan yang penuh dengan rasa amarah. Pukulan
dari Pia yang sejak tadi diam.
“Apa lo bilang? Cewek murahan? Siapa yang cewek murahan?
Vita? Lo emang cowok brengsek ya! Maunya enak doang! Lo nggak mikir gimana jadi
Vita hah? Dia udah kehilangan kesuciannya terus dia harus ngegugurin anaknya
sendiri. Lo manusia apa setan sih bisa kejem kayak gitu! Gue sumpahin lo mandul
seumur hidup!” Pia mengeluarkan sumpah serapahnya. Nafasnya terengah-engah
setalah mengucapkan itu semua. Ditatapnya dengan tajam bola mata Alvent. Menantang
cowok pengecut di hadapannya ini.
“Gue sumpahin lo cepet mati!” sumpah Pia lagi lalu segera
meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat-cepat dengan diikuti Yana dan
Greys di belakangnya.
“Gue nggak mau nakut-nakutin lo, karma itu masih ada
Vent. Ati-ati aja,” kata Nitya sesaat sebelum berlalu bersama yang lain.
Dalam diam Alvent menatap kepergian empat orang sahabat
Vita itu. Menatap punggung-punggung yang begitu setia membuat pagar untuk Vita.
Melindungi salah satu diantara mereka yang sedang terluka. Bahkan badan-badan
itu siap maju menjadi tameng Vita menghadapi cowok egois seperti Alvent.
***
Dengan menelungkupkan badannya di atas tempat tidur, Vita
terus menerus melihat gambar-gambar yang dengan rapi tertempel di album foto
itu. Gambar-gambarnya dari kecil sampai dewasa seperti ini. Senyum yang ada di
gambar itu begitu memilukan jika dilihat. Senyum yang masih ringan, gadis yang
masih polos, gadis yang benar-benar tak tahu betapa kejamnya dunia ini. Dan pada
lembar terakhir ada gambarnya bersama keempat sahabat tercinta. Lalu sebuah
senyum menghias di wajah Vita. Dalam senyum itu Vita memohon kepada Tuhan agar
Dia senantiasa menjaga persahabatan mereka. Melindungi setiap individu yang ada
di dalamnya agar tetap bisa bahagia dengan segala jalan yang dipilih oleh
masing-masing juga dengan jalan yang Vita pilih sekarang.
Vita berbalik. Membaringkan tubuhnya sembari mengelus
perutnya. Janin yang tak jadi dibuangnya. Janin yang berusaha dia lindungi
untuk hidup walaupun dia harus berbohong kepada Alvent.
Kamu jangan takut
ya, kita bakal hidup berdua dengan bahagia, kata Vita dalam hati.
Minggu, 23 Desember 2012
Pengorbanan Untuk Cinta
Pengorbanan
Untuk Cinta
Sinar bulan berpendar dengan terang malam ini. Menyinari langit
malam yang tampak gelap dan dingin. Suara jangkrik dan sesekali suara tokek
berselingan dari kamar Vita. Menemani gadis itu yang sendirian. Mata gadis itu
sangat sendu. Pandangannya entah kemana. Malam yang kelam.
Vita menghela nafas panjang. Gadis itu menatap perutnya.
Perutnya masih sama tapi tak akan pernah sama lagi karena di dalam sana ada
sebuah kehidupan yang akan direnggutnya. Kehidupan yang tak bisa dipertanggung
jawabkannya.
Air mata itu menetes lagi. Vita terisak lagi, berat dan sesak.
Luka yang ditanggungnya semakin lama semakin sakit. Rasa yang dipikirnya akan
hilang secara cepat ternyata semakin menusuk dan sakit.
Vita meraung lagi, berteriak, menjerit entah untuk apa.
Masih sakit, sangat sakit. Dia hampir membunuh anaknya sendiri. Hampir menggugurkannya
dalam usia dua minggu malam ini tanpa perasaan bersalah.
“Terserah kamu. Aku
nggak akan tanggung jawab sama janin yang kamu kandung. Buang apa kita pisah?”
Vita menyeka air
matanya. Kalimat laki-laki itu masing terngiang di otaknya. Kekasihnya.
Laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Laki-laki yang sangat Vita cintai. Tapi
setelah semua ini terjadi masih pantaskah Vita mencintai kekasihnya itu?
“Udah siap?” tanya seseorang yang memasuki kamar Vita
dengan menutupi sebagian wajahnya dengan masker dan membalut kedua tangannya
dengan sarung tangan latex.
Vita mengangguk kepada dukun kandungan itu. Orang yang
akan membantunya untuk membuang janin di perutnya. Vita terus meremas tepi
tempat tidurnya. Meneteskan kembali air matanya sepanjang malam itu.
-ooo-
Alvent menyusuri koridor kampusnya dengan santai. Earphone menutup telinga kanan dan
kirinya. Lagu-lagu berirama kencang keluar dari benda itu. Sedikit menutupi apa
yang sedang dipikirkannya sekarang.
“Vent! Vent!”
Seorang gadis memanggilnya dari belakang. Sedikit
mempercepat langkah kakinya karena Alvent tak menengok juga.
“Vent!”
Alvent berhenti setelah punggungnya ditepuk oleh
seseorang. Dilihatnya orang itu yang ternyata Nitya, teman sekelasnya.
“Apaan?” tanyanya dengan mencopot earphone yang masih terpasang di telinganya.
“Ikut gue.”
Nitya langsung menyeret Alvent tanpa meminta ijin. Dibawanya
Alvent ke tempat yang sepi sehingga dia bisa berbicara berdua dengan sahabatnya
yang baru saja melakukan hal gila. Sangat gila.
“Elo apain Vita?” Nitya langsung menodong Alvent setelah
mereka berada di taman belakang Fakultas Ekonomi.
Alvent mendecak pelan. Ditatapnya Nitya tajam dengan
menaikan satu alisnya.
Nitya yang ditatap Alvent seperti seolah tau jika
sahabatnya itu tak ingin hal pribadinya dicampuri oleh orang lain.
“Tapi Vita juga sahabat gue. Dia udah tiga hari nggak
masuk kuliah. Bahkan gue, Yana, Greys, Pia nggak ada yang tau kemana dia. Dan
kita yakin elo tau dimana Vita.”
“Kalo gue tau emang kenapa?”
“Susah ya ngomong sama orang sedeng kayak elo.”
Nitya frustasi dengan cowok yang ada di hadapannya ini.
Dia mengatur nafasnya agar emosinya tak meledak.
Plak!
Sebuah tamparan akhirnya jatuh di pipi Alvent. Ekspresi rasa
kecewa Nitya. Pelampiasaan amarah untuk Vita.
“Elo udah ngerusak masa depan Vita tau nggak. Elo udah
ngehamiliin Vita dan sekarang sahabat yang gue sayang itu ngilang tiba-tiba.
Siapa yang mesti tanggung jawab? Elo kan? Makannya kasih tau dimana Vita!”
Alvent mengepalkan tanggannya. Dia tak terima jika dituduh
sudah merusak masa depan Vita. Mereka melakukan hal itu berdua, atas dasar
cinta. Dan sekarang yang disalahkan oleh gadis di depannya ini hanya dia?
“Kalo ngomong jangan seenak jidat ya Nit.”
“Gue mau tanya. Elo udah apain Vita sampe dia ngilang?”
Nitya tak menggubris protes dari Alvent. Dia sangat khawatir dengan Vita. “Elo
ngehamiliin dia, iya kan?”
“Gue nggak ngapa-ngapain.”
Nitya mengibaskan tangannya. Tak percaya dengan ucapan
Alvent.
“Elo denger ya Vent,” ditunjuknya Alvent dengan telunjuknya.
“Dari pertama Vita suka sama elo, gue sama yang lain udah nasehatin dia kalo
elo bukan cowok yang bisa diajak serius. Elo bisanya cuma maen-maen. Tapi apa?
Vita nggak ngedengerin. Dia selalu ngebelain elo meski elo udah buat dia nangis
semaleman. Dia tetep sayang sama elo walopun elo cuek sama dia. Sekarang?
Mungkin dia bakal tetep cinta sama cowok bajingan kayak elo yang udah
ngehamiliin dia tanpa tanggung jawab.”
Nitya segera berlalu dari hadapan Alvent. Cukup untuk
sekarang. Dia dan teman-temannya akan melakukan sesuatu untuk Vita. Akan melindungi
salah satu sahabat mereka. Akan mendekapnya agar tak rapuh. Membantunya agar
tak terlihat lemah di depan cowok brengsek seperti Alvent.
***
Dari balik tralis besi kamar, Vita terus menatap bunga
yang bermekaran di halaman depan rumah. Berwarna-warni, bermekaran dengan indah.
Seketika senyum di wajahnya mengembang.
“Non Vita ada temennya di depan,” ujar seseorang yang
berada di ambang pintu kamarnya.
Vita berbalik, menatap wanita paruh baya itu dengan
bingung. Temannya? Siapa?
“Siapa bi? Cewek apa cowok?”
“Cowok.”
Vita mendesah. Dia mengangguk lalu keluar dari kamar
untuk menemui temannya itu. Dia berjalan menuju teras dengan malas. Sesampainya
di sana dia melihat seseorang yang sedang duduk sembari memainkan handphone. Seseorang yang sangat dihafal
oleh Vita. Objek yang sangat teramat jelas dalam ingatannya.
“Hei
Vent,” sapa Vita kepada orang itu. Kekasihnya.
Alvent
tersenyum. Memasukkan handphone nya
lalu berdiri, mendekat kepada gadisnya itu.
“Gimana
keadaan kamu? Masih sakit?” tanyanya sembari mengelus perut Vita. Perut yang
beberapa jam yang lalu berisi janinnya.
Vita
tersenyum simpul sembari mengangguk. Hatinya terasa sakit. Begitu bahagiakah
Alvent dengan ini semua? Senangkah dia setelah pengorbanannya?
“Nah
gitu dong, sekarang kan jadi enak, kita jadi nggak ada beban,” kata Alvent ringan
sembari tersenyum lalu mendekap gadisnya itu dengan menghujani puncak kepala
Vita dengan ciuman.
Dalam
dekapan itu Vita menghapus air matanya yang entah mengapa turun begitu saja. Mencoba
merasakan kehangatan dari dekapan Alvent yang tiba-tiba terasa kaku dan dingin.
Mencoba mengikhlaskan semua yang telah dan akan terjadi. Memilih antara yang
harus dipilih. Melepaskan sesuatu untuk mendekap yang lain.
“Sekarang kita balik ke Jakarta ya?” kata Alvent setelah
mengurai pelukannya itu.
Vita setuju. Sore itu Vita dan Alvent meninggalkan
Bandung. Meninggalkan segala kepiluan yang terjadi di kota kembang itu. Kembali
menuju Jakarta. Menuju kenyataan yang benar-benar akan dihadapi Vita. Menghadapi
semuanya sendirian. Karena ini yang dipilih Vita. Jika Alvent melepas tanggung
jawab itu maka dirinyalah yang akan menanggung semua itu.
Karna cinta tak
harus menurut, perlu ketegasan di dalamnya.
Sabtu, 22 Desember 2012
Cinta Diam-Diam
Cinta
Diam-Diam
***
Walaupun hanya bisa
memandang, ini sudah cukup membuatku bahagia...
Yana memandang lapangan basket dari tempat duduknya
dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Hanya sesekali dia
mendengarkan kata-kata Pak Wid yang sedang menerangkan tentang medan listrik.
“Yan, diliatin Pak Wid tuh,” tegur Nitya teman sebangku
Yana.
Gadis itu terkesikap. Dialihkannya pandangan dari
lapangan basket ke muka Pak Wid. Objek yang benar-benar berbeda. Mendengarkan
penjelasan Pak Wid tentang fisika sungguh membuat bosan dan mengantuk. Baginya
seseorang yang ada di lapangan basket sana lebih menarik untuk dijadikan
tontonan daripada Pak Wid yang sudah tua.
“Ngantuk gue kalo harus dengerin Pak Wid ngomong dua
jem,” omel Yana dengan menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Nitya nyengir menanggapi omelan Yana. Bahkan hampir semua
penghuni kelas itu terus menguap tanpa bisa dihitung frekuensinya.
“Enakan ngeliatin Hendra deh, segerrr,” lanjutnya lagi
dengan sesekali melirik lapangan basket yang tak jauh dari kelasnya.
“Itu sih mau lo,” kata Nitya sambil menoyor kepala Yana.
Yana nyengir setelah ditoyor Nitya. Dipandangnya lagi
Hendra yang sedang pelajaran olah raga itu. Hendra, objek yang sangat
membahagiakan Yana dalam hidupnya. Laki-laki yang dari awal masuk SMA menarik
perhatiannya. Laki-laki yang entah darimana sudah menetap di hati gadis itu.
***
Aku hanya bisa
memandangnya dari jauh, karena cintaku untuknya hanya sekedar cinta
diam-diam...
“Elo betah tuh mendem cinta kayak gitu, udah mau lulus
tetep aja ngeliatin doang, deketin kek,” celoteh Nitya kepada Yana pada jam
istirahat ini. Gadis kelahiran Bali itu sebenarnya bosen melihat Yana yang
hanya bisa mengagumi.
Yana tak menggubris omongan Nitya. Ada benarnya juga
perkataan temannya tadi. Memang sudah hampir tiga tahun dia memendam cintanya.
Memberikan tempat khusus bagi Hendra di hatinya. Tapi itu hanya dari Yana.
Hanya dari satu pihak.
“Susah Nit. Apalagi gue cewek, malu tau kalo cewek duluan
yang harus maju. Cewek itu takdirnya nunggu bukan ngejar,” kata Yana dengan
mengaduk-aduk jus mangga yang ada di hadapannya.
Nitya menyesap teh botolnya sampai habis lalu memandang
Yana.
“Sekarang udah modern. Nggak ada hukumnya kalo cewek cuma
bisa nunggu. Kalo lo mau dapetin cinta, nggak peduli lo cewek atau cowok, lo
harus perjuangin, usaha dengan segala cara tanpa rasa malu,” ujarnya memberi
nasehat kepada Yana. Menyadarkan temannya itu bahwa cinta yang hanya dipendam
akan menimbulkan penyesalan. Karena dia telah merasakannya. Dimana dia dulu
pernah memendam cinta.
“Tapi lo harus tau, cinta yang nggak diungkapin punya
sensasi yang lebih,” kata Yana membela diri.
“Iye tau, papasan dikit aja senengnya tujuh hari tujuh malem.
Tapi kalo liat dia ngandeng cewek nangisnya tujuh turunan kali,” ledek Nitya
yang kemudian meninggalkan Yana di kantin.
Yana enggan mengikuti Nitya kembali ke kelas. Walaupun bel
masuk sudah berbunyi beberapa detik yang lalu, dia memilih tetap duduk di kursi
kantin itu. Ingin sedikit terlambat.
Gue cuma bisa gini,
mencintai dalam diam. Entah sampe kapan, tapi untuk sekarang gue cuma bisa
melihat dan merasakannya sendiri.
***
Aku mencintaimu dalam batas imajinasi tanpa berani mewujudkannya...
Hendra menggores-goreskan pensilnya di buku tulis
matematika bagian belakang. Seorang gadis dengan wajah oriental dan rambut
pendek. Senyum yang sama persis dengan aslinya. Semuanya terekam jelas
diingatan Hendra dan dituangkannya dalam bentuk sketsa. Entah sudah berapa
banyak wajah gadis itu digambar olehnya. Dengan berbagai gaya juga dengan
bermacam-macam ekspresi wajah yang sungguh membuat Hendra tersenyum seketika
jika melihat sketsa itu.
“Kalo suka ngomong jangan dipendem.”
Hendra menoleh, ternyata Bu Endang berada di sampingnya.
“Enggak bu, cuma iseng,” Hendra segera menutup sketsa itu dan kembali menyatat
materi trigonometri yang berada di papan tulis.
“Rasain lo,” ledek Age, teman sebangku Hendra setelah Bu
Endang berlalu dari tempat duduk mereka. “Tapi bener tuh kata Bu Endang, kalo
suka ngomong jangan dipendem.”
Hendra menoyor kepala Age. “Jangan sok ngajarin.”
***
Kadang takdir itu
lucu, kayak jodoh, udah di depan mata tapi lewat gitu aja...
Waktu memang berjalan dengan cepat. Siap atau enggak
semuanya akan berlalu silih berganti. Seperti sekarang. Untuk Hendra juga Yana
yang sedang menunggu kelulusan di halam sekolah mereka. Entah mengapa ada
sedikit rasa sedih menyisip di hati mereka. Bagi keduanya, waktu tiga tahun
tidak terasa, seperti kemarin baru saja mengikuti MOS tapi sekarang sudah harus
meninggalkan bangunan bertingkat tiga itu. Membawa semuanya dalam bentuk
kenangan. Juga tentang cinta mereka berdua. Keduanya memendam cinta di sini
tanpa berani untuk menunjukannya. Bagi Yana, seorang cewek tak pantas untuk
mengungkapkan cinta terlebih dahulu. Bagi Hendra, dia belum cukup mengerti
tentang perasaannya ini, tapi yang dia tau untuk sekarang, Yana telah menempati
hatinya sejak kelas satu dulu.
Brukk!!!
“Sorry,” ucap keduanya bersamaan. Hendra dan Yana saling
bertatapan lalu menggumbar senyum diantara keduanya.
“Sorry, gue buru-buru mau liat pengumuman, katanya udah
keluar ya?” ujar Hendra sembari menatap Yana yang baru saja ditabraknya. Untung
saja gadis mungil itu tak jatuh ke tanah.
Yana mengangguk, entah kenapa darahnya berdesir dengan
cepat. Hendra ada di hadapannya, sedekat ini. “Iya, tuh ditempel di mading,”
lanjutnya dengan tersenyum tanpa sadar.
“Lulus?”
“Puji Tuhan.”
“Wah selamet ya,” kata Hendra sembari menjulurkan
tangannya.
Yana mengangguk lalu menyalami tangan Hendra. Entah mimpi
apa yang dialaminya tadi malam.
“Gue ke sana dulu ya,” ujarnya kemudian meninggalkan
Yana.
Hendra berjalan menuju mading dengan wajah riang. Hari
yang sudah sangat lama ditunggunya. Setelah hampir tiga tahun akhirnya dia bisa
berbicara dengan gadisnya itu. Menatap dengan sangat dekat. Sungguh itu sudah
cukup baginya. Karena terkadang cinta itu perlu pengertian, bahwa tak semua
cinta yang terucap akan berakhir bahagia, baginya cinta dalam diam akan abadi.
Yana menatap punggung Hendra yang menjauh kemudian ikut
berlalu dari sana. Berjalan menuju gerbang sekolah, bergabung dengan
teman-temannya yang sedang sibuk membubuhkan tanda tangan pada baju sekolah
mereka. Yana ikut larut dalam kegembiraan itu. Yana tak menyesal karena dia
tetap menyimpan cintanya. Jika memang ini terakhir baginya untuk menatap
Hendra, maka dia akan tetap bahagia. Karena segala bentuk cinta adalah
kebahagiaan.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


