SELAMAT DATANG
Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...
Selasa, 19 Juni 2012
Cerita Untuk SELF
Ini aku tulis sekedar buat nginget berapa hari yang sudah kita lalui bersama. Ya walopun agak norak tapi nggak papa deh.
Aku bakal cerita yang aku rasain selama berada bersama dalam satu ruangan yang luasnya nggak luas-luas banget itu. Kalo temen-temen self ada yang baca dan pengen nambahin monggo.
Jadi, ceritanya bermula saat awal Juli. Tanggal dimana liburan telah usai dan kita diwajibkan dan harus kembali ke sekolah. Dan disaat itu aku ketemu sama temen-temen yang sembilan puluh persen baru. Mungkin bukan baru dalam artian nggak pernah kenal, tapi ya baru kali ini aja kita diberi kesempatan untuk mengenal sifat mereka lebih deket. Di kelas ini ada 33 siswa awalnya, tapi selang berapa minggu ada satu siswa baru yang menjadikan kita 34. Masuk bersama, kenalan terus temenan deh. Semuanya berjalan biasa-biasa aja, masih tahap adaptasi, belom ada cerita seru yang terukir. Sampe akhirnya kita semua saling satu sama lainnya. Mulai ada cinta yang bersemi diantara kita, mulai ada perselisihan kecil dan mulai ada pengertian yang buat kita seperti keluarga.
Mungkin sebelum aku bercerita lebih jauh, aku kenalin dulu ya manusia-manusia yang menghuni kelas sebelas ipa lima. Di mulai dari wali kelas kita yang cantik dan suka menasehati kita dijabat oleh Bu Endah yang juga merangkap guru Bhasa Indonesia kita. Terus Ketua Kelas diduduki oleh Musasi yang sering salah kasih informasi. Wakil Ketua Kelas ada Ci Man (re: Manda) yang suka banget sama es batu, kadang kalo beli minum lebih banyak es nya ketimbang airnya. Sekretaris ada Mawar yang sering ngabsen kita sekaligus jago basket ada juga sekretarisnya yaitu Novella yang pengen banget difollback Juston Bieber. Kalo bendahara ada si Eka yang suka banget sama Suju dan sejenisnya itu. Dan saya lupa susunan kelas kita apa aja, jadi sekarang aku kenalinnya acak aja oke?
dilanjut ke Lily yang pinter dan suka nari. Si Luga yang sering mimpin pemanasan pake gerakan kapoera. Lewi yang diam-diam menghanyutkan. Ersa yang suka banget makan wortel. Agil yang diam-diam menghanyutkan juga kayak Lewi. Terus ada Tandon yang kadang bisa jadi tua banget. Terus ada Cita yang kadang bikin jengkel. Belakangannya ada Fukusin yang suka dibully Akbar. Tatang yang ngeselin. Akbar yang sukanya bantingin kursi sama tepuk tangan nggak jelas. Derrick yang nggak bisa bilang 'r'. Desi yang pendiam tapi sekalinya ngomong pedes. Angel yang merangkap jadi pacarnyaCita. TA yang suka main UNO. Winda yang suka banget sama Rafael SM*SH. Laelatul sang bintang kelas Self. Bella yang suka bawa helm ke kelas. Mega yang sering banget sama kentang katsu. Lena yang polos nan lugu. Raihan yang wajah dan kelakuannya nggak bisa ditebak. Bram yang suka bawa laptop. Muklis yang suka gambar-gambar nggak jelas. Putri yang pendiem tapi alinya kocak. Yarra yang sering 'adu mulut' sama Akbar. Fatin yang suaranya cempreng abis kalo teriak. Fitri yang giginya dipageri. Bokir yang masih gagal move on. Juga saya yang nulis ceritanya.
Jadi mereka semua adalah manusia-manusia penghuni kelas sebelas ipa lima. Semuanya bakal bikin aku kangen. Gimana dan kenapa kita ketawa. Gimana kejamnya kita waktu ngebiarin Angel duduk sendiri di tengah canda tawa kita waktu dia ulang tahun. Bakal kangen waktu kita nonton film bareng, main UNO, ngetawain beberapa guru yang kocak. Dan pasti kita semua bakal kangen sama cerita kita di Bali. Semuanya bakal ngangenin. Suara-suara yang udah familiar ditelinga kita. Wajah-wajah yang hampir setahun kita lihat. Kebiasan yang udah kita lakuin hampir setahun. Semuanya sudah berakhir. Suara yang akan terdengar bakal berubah besok. Wajah yang bakal kita temuin juga bakal berubah. Udah nggak ada namanya self untuk esok. Self hanya cerita yang akan berlalu. Udah nggak ada lagi usaha ngamen, ngawul, jualan buat nambah duit ke Bali. Udah nggak ada nonton film bareng di laptop Bram. Udah nggak ada lagi seruan "Akbarrrr" waktu dia banting kursi. Udah nggak ada lagi ngebully Bella yang sering bawa helm. Udah nggak bisa ngejek Musasi sama Lily. Udah nggak bisa cengin Eka sama Muklis. Udah nggak bisa nyontek sama Laelatul. Udah nggak bisa duduk bareng-bareng di kelas liatin tulisan para guru yang maha sulit dibaca itu, dengerin pelajaran yang ngebosenin. Udah nggak bisa gosip bareng. Udah nggak bisa masuk kelas itu lagi dan ngelihat anak-anak Self. Satu tahun ternyata cepet ya. Yang nggak kalah ngangenin itu suasana waktu tes. Gimana kita yang di kelas kurang deket jadi bisa deket gara-gara contek-mencontek waktu tes. Gimana kita jadi saling kerja sama. Dan aku kangen sama suasana itu. Apalagi kemaren waktu classmeet, aku nggak bisa liat perjuangan self buat lomba, tapi waktu aku masuk kelas hari senin aku seneng ternyata tulisanku di blog dipajang di sana. Dan mungkin ini menjadi tulisan terakhirku tentang self. Mungkin besok aku bakal nulis ceritaku di kelas dua belas ipa berapa yang aku tempati.
Trimakasih ya buat semua anak self yang udah bersama. Juga Adi yang walopun udah pindah kamu pernah kok jadi bagian dari kelas ini. Makasih buat semua cerita dan tawa yang ada di sini. Maaf buat kelakuanku yang mungkin nggak diterima di kelas. Semoga usaha kita di kelas sebelas ini bisa terbayarkan dengan hasil rapor yang bagus. amin. Bye..... :'D :'D :'D
Senin, 21 Mei 2012
Tak Jodoh
“Apaan
lagi sih?” kataku tepat setelah benda yang berada ditelinga kananku ini
berbunyi.
“Kok
jawabnya kayak gitu sih?” tanya orang disebrang sana sedikit tersinggung dengan
ucapanku tadi.
Aku
menghela nafas, mencoba bersabar untuk mengahdapi makhluk satu ini. Dan
kuulangi jawabannku dengan bahasa yang lebih halus. “Mau apa Vent?”
“Aku
kangen kamu Vit,” katanya pelan dan lugas tapi masih bisa kudengar. Kangen? Saat-saat kayak gini masih kangen
sama gue? Gerutuku dalam hati.
“Jangan
ngaco deh Vent!” aku memprotes ucapannya tadi.
“Aku
nggak ngaco. Aku bener-bener kangen sama kamu dan aku juga masih cinta sama
kamu. Sampe kapan kamu nggak percaya sama aku Vit?” jelasnya panjang lebar. Aku
tersenyum mendengarnya. Aku bukannya tak percaya dengan dia tapi aku sudah
lelah percaya dengannya.
“Aku
tau, nggak usah kamu ulang. Tapi sekarang keadaannya udah berbeda. Kamu udah
ada yang punya dan aku nggak mau disebut sebagai perebut pacar orang.” Kataku
tak kalah panjang.
“Tapi
kita masih punya waktu. Aku sama dia belum nikah, kita masih bisa ber-,”
Aku
memotong ucapannya. “Enggak Vent!”
“Kenapa
enggak?! Kita sama-sama masih cinta. Jadi nggak ada alesan buat nggak bisa
bersatu!” ucapnya dengan emosi yang mulai tak teratur.
Kamu masih cinta? Batinku bertanya pada
diriku sendiri. Dan oke! Aku emang masih cinta sama mantanku yang satu ini.
Berpacaran selama 2 tahun dan tiba-tiba putus Cuma gara-gara hal sepele. Dan semua
kenangan tak bisa cepat terlupakan, begitu juga perasaanku tak bisa secepat itu
berubah. Tapi ini susah! Seperti kataku pada Alvent tadi, dia sudah punya pacar
lagi dan gilanya dia masih mendekatiku?
Terdengar
Alvent menghembuskan nafasnya, mungkin dia lelah berdebat denganku. “Dulu sama
sekarang berbeda Vent. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang.” Kataku.
“Vit please,”
“Vent please,”
“Kalo itu udah
maumu aku bakal tururin. Semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku. Love you Vit,” ucapnya lalu memutuskan
hubungan telpon itu. Singakat tapi menyakitkan. Dan mungkin tadi adalah kata
cintanya yang terakhir. Kata cinta yang akan mengakhiri kisah cinta penuh luka kita
untuk selamanya.
“Ayo Vita
berangkat!” teriak Butet dari luar.
Aku
cepat-cepat menghapus air mataku. “Tunggu,” balasku juga dengan berteriak.
Aku
membereskan penampilanku dulu didepan kaca. Sebelum berangkat aku melihat
boneka panda dikasurku. Boneka indah dari orang terindah. Kusempatkan memeluk
boneka itu. Entah kenapa aku ingin memeluknya, lebih tepatnya memeluk
pemberinya.
“Vita ayo
berangkat!” omel Butet yang sudah berada didalam kamarku. “Dasar, mau berangkat
masih aja meluk-meluk beruang,” lanjutnya.
Aku mendengus.
“Itu panda Butet bukan beruang.”
“Mau panda mau
beruang sama aja. Bilang aja lo kangen sama Alvent jadi lo peluk-peluk
bonekanya. Iya kan?” tebak Butet tepat pada sasaran. Dan aku hanya tersenyum
malu menanggapinya.
“Udah ayo berangkat,” Butet manarik tanganku.
Aku menurut saja mengikuti Butet dari belakang, sebenarnya aku enggan ikut tapi
mau bagaimana lagi.
Dasar Alvent gila! Hari ini udah mau nikah
tapi sejam yang lalu masih bilang cinta sama gue? Dan coba kalo gue mau
balikan, malunya kayak apa coba keluarganya. Batinku selama perjalanan
menuju gereja tempat Alvent dan pasangannya menikah.
Senin, 07 Mei 2012
Cerita Antara Kita
Cerita
Antara Kita
Ini cerita tentang aku dan keluarga ku di PMR SMA N 5
Semarang. Cerita tentang kebersamaan kita selama ini. Cerita tentang hari-hari
yang telah kita lalui. Bagaimana dan mengapa kita bisa bertemu. Dan inilah
cerita diantara kita.
Aku bisa masuk SMA N 5 karena PMR. Nilaiku bisa mencukupi
karena nilai tambahan dari piagam kejuaraan PMR. Karena inilah aku melanjutkan
kegiatan PMR di tingkat SMA. Hanya itu alasan ku. Simpel.
Pertama masuk PMR di SMA aku ketemu temen-temen baru yang
ternyata banyak diantara mereka yang memang dulu waktu SMP udah ikut PMR. Ketemu
pelatihnya juga. Namanya Bariyanto, tapikita sering manggil ‘Om Bar’. Kesan pertama
liat Om Bar itu biasa aja. Kayak liat guru atau pelatih. Kita latian juga nggak
serius amat. Banyak ketawa-ketawa. Kita minta pulang, ya Om Bar ngasih pulang.
Kita minta latian tambahan waktu lomba ya Om Bar sebisa mungkin ngeluangin
waktunya buat kita. Ngomong-ngomong masalah lomba, aku punya banyak banget
cerita sama kalian dan itu ngebuat aku senyum waktu ngingetnya.
Debut pertama lomba ku itu di IKIP PGRI. Sebelum ada
lomba, kita dikasih spesialisasi dulu. Pertama aku mau dimasukin ke
Kepalangmerahan, pertamanya sih aku sempet mau tapi setelah aku pikir dan
nginget betapa banyaknya materi yang harus dihafal aku beralih di perawatan
keluarga. Berpartner dengan Arini sampai sekarang, mungkin tepatnya sampai
kemaren hari Sabtu. Debut pertama lomba deg-degan lah ya, apalagi di situ aku
juga ikut lomba bikin tandu bareng Arini. Bayangin bikin tandu dan itu kita
bikin pake tali rafia. Keren ya? Hahaha tapi itu yang bikin lomba di IKIP
berkesan. Alhamdulillah di sana kita dapet piala. Dan yang bikin aku ketawa
kalo inget lomba di IKIP itu ada kejadian kotak roti. Pada tau kan? Jadi jangan
diumbar di sini.
Lomba berikutnya di Polines. Latihan kayak biasanya. Latian
tambahan di PMI. Mikirin loma-lomba yang lain kayak lomba paduan suara sama
pentas seni yang emang kita nggak berbakat di bidang itu. Alhamdulillah juga
kita bisa bawa satu piala dari nenek yang pinternya kebangetan.
Latian kayak biasanya. Nggak ada lomba ya kita Cuma bisa
latian rutin. Ketemu-ngasih materi-pulang. Sampe ada lomba invitasi dari PMI. Kita
latian lagi. Dan kita bisa bawa gelar juara umum di ajang ini. Seneng. Terharu.
Bangga. Terus kita lanjut lomba di smaga sama IAIN Wali Songo. Di sini kita
dibagi dua tim. Ada yang lomba di Smaga ada juga yang di IAIN. Dan dari dua
ajang itu kita bisa bawa pulang piala. Dan itu lomba terakhirku di kelas
sepuluh.
Awal semester kelas sebelas kita disambut lomba di UNNES.
Di sini angkatannya mbak Dina yang notabennya ketua PMR udah nggak boleh ikut
lomba lagi. dan tongkat ketua bergeser ke Rosa. Lomba di UNNES ini bentrok sana
kegiatan pramuka di Bantir. Akhirnnya sebagian ikut lomba dan sebagian pergi ke
bantir sebagai tim kesehatan. Aku kebagian berangkat lomba di UNNES. Di ajang
ini kita bisa bawa pulang piala juga. Setelah lomba itu kita berlanjut lomba di
Stemba di semester kedua. Berangkat dengan dua tim, kita juga bisa bawa pulang
piala. Setelah Stemba kita lomba di Polines. Tempat yang sama dengan kesan yang
sama. Menyedihkan dan mengharukan. Tapi kita tetep bisa bawa pulang piala dari
Michell. Setelah Polines kita ikut lomba di UNIKA tapi karena keterbatasan
peserta lomba dibatalkan. Kasian bener deh masak yang daftar cuma tiga? UNIKA
batal kita lanjut ke Jumbara tingkat Kota. Lomba terakhir buat angkatanku. Ternyata
waktu cepet ya, tau-tau udah lomba terakhir aja. Di lomba ini kita bener-bener
latian yang nggak pernah kita lakuin kayak lomba sebelum-sebelumnya. Dari hari
Senin kita latian sampe pulangnya sore. Apalagi menjelang h-3 kita pulang
hampir pukul 5 sore dan itu bener-bener capek. Aku nggak nyangka kalo kita bisa
sekompak itu buat jumbara. Beli kaos putih yang sama di Johar. Beli tulisan ‘OB’
buat ditempel di kaos putihnya. Minta bantuan Bu Asri buat ngelatih paduan
suara kita, beli pernak-pernik buat madingnya. Dan baru lomba ini kita
bener-bener niat buat lomba di bidang seni. Kita lomba di sana. Hujan. Tenda Cuma
bisa satu yang dipake. Kelas sepuluh rela ngungsi di musola buat tidur. Ada masalah
sama juri. Dan di jumbara alhamdulillah kita bisa bawa piala. Sedih sih karena
nggak bisa bawa pulang gelar juara umum tapi kita udah berusaha semampu kita.
Banyak tawa yang udah kita lewati bersama. Waktu yang kita lewatin waktu ngesiapin lomba. Amarah yang
keluar dari tiap kepala saat menjelang lomba. Rasa deg-deg an waktu nunggu
lomba dan nunggu pengumuman juara, air mata sehabis lomba, ngotot-ngototan sama
juri waktu habis lomba, tidur dempet-dempetan, ke kamar mandi bareng-bareng,
cerita-cerita selama lomba, nanya-nanya nilai kontingen lain, ngebully salah
satu diantara kita, makan bareng, solat bareng, gila-gilaan bareng, protes ke
juri, bisik-bisik waktu ngeliatin kontingen lain dan itu semua nggak akan
pernah aku lupain. Mungkin besok, suatu saat nanti, aku bakal cerita kalo aku
pernah ikut PMR di SMA, pelatihnya namanya Om Bar, dan istrinya sering banget
nemenin kita lomba, kita manggil tante Bar, terus aku punya temen yang plengeh
namanya Siti, ada juga partner ku namanya Arini, terus ada Lulu yang sering
bantu aku minta tanda tangan buat proposal dan mukanya itu mirip Cikita Meidy,
sedangkan ketua PMR kita namanya Rosa, ada juga mbak Dina yang mirip sama
Nikita Willy, terus ada Nenek yang sering bilang sorry, terus ada Michell yang pinter gambat, dan temen-temen lainnya
yang gokil-gokil.
Makasih buat semuanya yang udah ikut andil berjuang buat
PMR SMA N 5 Semarang. makasih buat Om Bar yang udah mau ngelatih kita sampe
sekarang, kita cuma bisa nunggu keputusan dari Om Bar, kalo itu yang terbaik
buat semuanya kita bakal terima dan kita nggak bakal lupa sama ilmu yang udah
Om Bar beri buat anak-anak pmr smala, makasih juga tante Bar yang selalu
ngedampingin kita waktu lomba, cerita bareng, ngebelain kita buat protes ke
juri, bakal kangen tidur bareng-bareng waktu lomba haha :”) , buat Bayu yang
jjuga sering nemenin kita lomba, temen-temen pmr, adek kelas pmr, kakak kelas
pmr, para alumni yang sering ngejengukin kita, yang ngesupport kita, pak
Hartono yang sering mintain duit buat kita-kita. Bangga jadi bagian dari PMR
Smala. Dan saya bangga bisa jadi murid seorang Bariyanto :)
Om Bar
Tante Bar
anak pmr smala
Selesai sudah ceritaku dengan pmr smala. Trimakasih semuanya, aku sayang kalian semua ;))
Langganan:
Postingan (Atom)

















