SELAMAT DATANG

Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...

Jumat, 21 Desember 2012

Sandiwara Cinta #6




Sandiwara Cinta
Part 6

***

            Siang ini cuaca di Jakarta begitu terik. Matahari bak berada di atas kepala. Vita yang selalu bersemangat melakukan aktivitasnya menjadi sedikit malas bergerak. Tubuhnya terkulai lemas di atas meja kelas. Kepalanya juga terasa pusing sejak dia bangun tidur tadi pagi.

            “Elo sakit Vit?” tanya Yana yang bingung melihat tingkah laku sahabatnya itu.

            “Nggak papa kok.” Dengan samar Vita menggeleng. Tubuhnya tak berubah sedikit pun.

            Nitya yang juga bersama mereka dengan paksa menegakkan tubuh Vita, ditariknya sampai dia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

            “Pucet banget. Pulang gih.” Sarannya yang kaget melihat keadaan Vita yang jauh dari kata baik-baik saja. “Panas pula,” lanjutnya lagi setelah memegang kening Vita.

            Gadis itu lagi-lagi menggeleng. Enggan mengikuti saran dari salah satu sahabatnya.

            “Masih ada kelas,” jawabnya dengan suara yang timbul tenggelam.

            “Entar gue ijinin deh.” Bujuk Yana yang tak tega melihat kondisi Vita seperti itu.

            “Udah sono balik. Gue telepon Hendra ya biar nganterin pulang?” Tawar Nitya, sedangkan Yana langsung membereskan buku-buku milik Vita.

            Vita menghela nafas dengan lesu. Dia tidak bisa menolak untuk tidak menuruti permintaan sahabat-sahabatnya itu.

            “Hendra lagi ada rapat sama anak BEM,” kata Nitya setelah menghubungi Hendra. “Kita anter deh.”

            “Gue bisa balik sendiri. Bisa naik taksi ini,” tolak Vita yang langsung menenteng tasnya. “Gue nggak mau kalian cabut dengan mengatas namakan nganterin gue pulang.”

            Yana dan Nitya menyeringai bersamaan. Mereka memang senang jika bisa cabut dari kelas Pak Nova yang terkenal killer itu. Apalagi alasannya jelas.

            “Udah ah gue balik dulu.”

            Vita melangkah pelan keluar dari kelasnya. Dengan sisa-sisa energi yang dimiliki, gadis itu memaksakan kakinya untuk terus menopang tubuhnya yang semakin lama terasa berat. Vita terus berjalan dan tanpa sadar jika sedaritadi ada sepasang mata yang mengikuti pergerakannya,.

            “Siniin kuncinya.”

            Vita yang baru saja sampai di parkiran dan mengeluarkan kunci dari tas langsung terperangah melihat Alvent yang tau-tau menodongnya.

            Vita tak memberikan apa yang diminta Alvent tapi ternyata Alvent bergerak lebih cepat. Belum sempat Vita berujar sesuatu dia sudah merebut kunci yang ada di tangan gadis itu tanpa ijin.

            “Gue anter pulang. Sana masuk.” Kata Alvent dengan nada memerintah.

            “Gue bisa pulang sendiri.” Vita menolak dan berusaha mengambil kembali kunci mobilnya.

            Alvent mencoba berkelit dari tangan Vita yang berusaha mengambil kembali kuncinya. Laki-laki itu mendengus setelah melihat usaha Vita yang begitu keras. Dengan terpaksa dia memegang kedua tangan Vita. Menguncinya agar tidak bergerak.

            “Liat.” Seru Alvent yang memaksa Vita menunduk guna melihat kondisinya dari spion mobilnya sendiri.

            “Elo tuh pucet banget. Masih bisa pulang sendiri? Bisa bawa mobil? Mana mungkin gue biarin cewek yang gue sayang pulang sendiri dengan keadaan kayak gini.”

            Vita terpaku melihat bayangan wajahnya. Dia begitu pucat. Tapi wajahnya begitu tegang setelah mendengar ocehan Alvent tadi. Ada sesuatu yang ganjal yang tak begitu jelas ditangkap oleh pendengarannya.

            Vita mencoba mengurai genggaman Alvent pada tangannya. Ditatapnya Alvent dalam-dalam. Mencoba mencari kesungguhan dari mata laki-laki itu. Mencari pengulangan kata-kata tadi  dalam bentuk yang lain.

            “Coba ulangin,” pinta Vita dengan lemah. Badannya mulai gemetar. Kepalanya begitu pusing.

            “Aku sayang sama kamu,” ualang Alvent tanpa basa-basi. Tapi ternyata sebelum kata-kata itu tertangkap sempurna oleh pendengaran Vita, gadis itu keburu ambruk di depan Alvent. Meluruh ke tanah bersama gaya gravitasi yang ada.     

***

            Alvent duduk bersila di balkon kamarnya. Laki-laki itu menghirup rokok yang ada di tangannya dengan menatap matahari yang mulai menghilang dari bumi. Alvent memang anti tembakau, tapi jika sudah begini, jika emosinya sudah tak terbendung, prinsip itu tak berlaku. Hanya dengan menghisap kuat-kuat rokok itu dan mengepulkannya ke udara dia berharap bisa mengurangi penat di dalam kepalanya. Tapi bayangan Vita yang tiba-tiba terjatuh di depannya tidak bisa begitu saja hilang. Wajahnya yang pucat terus berkelebat.

***

            Vita belum sadar sejak tadi siang. Tubuhnya masih terkulai lemas di atas kasur. Matanya terus saja tertutup dengan tenang bahkan nyaris seperti orang mati jika saja dadanya tidak naik turun untuk menghirup nafas.

            Saat semua orang terlelap. Saat itulah Vita mulai sadar. Dini hari Vita mulai membuka matanya. Kepalanya masih pusing, pandangannya pun sedikit kabur. Tapi tetap saja gadis itu berusaha untuk bangun. Tenggorokannya terasa kering. Dengan meraba benda yang ada di sekitarnya Vita mencoba berjalan menuju dapur. Memegang apa saja yang sekiranya kuat untuk menopang tubuhnya.

            Bruk.

            Vita terjatuh lagi. Tubuhnya langsung tersungkur di lantai kamarnya. Kotak yang mirip kotak sepatu itu juga ikut terpelanting karena tertendang oleh Vita. Kotak yang menjadi penyebab dia jatuh. Benda-benda yang ada di dalam kotak itu mencuat begitu saja. Berhamburan ke sana kemari. Memperlihatkan rahasia yang tersembunyi selama ini. Ada lembaran foto, kaset, kalung, flashdisk dan benda-benda lainnya.

            Vita meruntuk dalam hati. Sekarang bukan hanya kepalanya yang pusing badannya juga ikut sakit karena terbentur tepi tempat tidur yang terbuat dari kayu itu.

            Dengan enggan Vita memunguti benda-benda itu. Tanpa menghiraukan apa yang ada di genggamannya dia langsung memasukkan benda-benda itu ke dalam kotak lagi. Tapi kegiatannya terhenti pada satu lembar foto, benda terakhir yang masih tertinggal di lantai kamarnya. Satu lembar foto yang sangat berarti bagi wajah-wajah yang ada di dalamnya. Momen yang tak akan bisa diulang kembali. Vita masih melihatnya dengan terperangah. Kecurigaannya mencuat kembali. Di dalam kertas foto itu, tergambar dirinya dan Alvent yang sedang tertawa lepas di atas komedi putar.

            Dufan, main bareng lagi. Love you ya...

            Vita membacanya berulang-ulang tulisan yang berada di balik foto itu. Membacanya dengan keterperangahan yang memuncak.

            Seperti kesetanan dia mengeluarkan kembali isi dari kotak di depannya itu. Ternyata semua foto yang tersimpan adalah foto dirinya bersama Alvent. Foto-foto yang terlewatkan. Juga dengan tulisan di baliknya. Selalu tertulis kata cinta di dalamnya.

            Vita mengambil flashdisk yang berbentuk raket, yang menjadi bagian dari kotak itu, lalu menancapkannya ke komputer dengan cepat-cepat. Hanya ada satu file di sana. Sebuah video tanpa judul. Dengan ragu Vita membukanya.

            Gadis itu menahan nafas saat gambar itu mulai muncul di layar komputer. Wajahnya yang berada di sana juga kadang berganti dengan wajah Alvent. Hanya ada tawa di dalam rekaman itu. Tampak sangat dekat dan bahagia.

            “Vit ayo bilang sesuatu.” Suara Alvent terdengar dalam rekaman itu.

            Wajah Vita tampak kebingungan. Tapi ada semburat merah di pipinya.

            “Ngomong apa?”

            “Terserah. Cepetan keburu abis ini film nya,” ujar Alvent yang terus memaksa Vita mengatakan sesuatu.

            “Hallo, ini gue Vita, gue pacarnya Alvent. Gue nggak tau kenapa gue suka sama dia mungkin pake pelet kali ya.”

            “Yee ngeledek. Yang bener dong Vit,” protes Alvent menghentikan Vita. Hanya suara yang terus terekam dari sosok Alvent.

            “Cerewet!” kata Vita galak yang sesaat gambarnya hilang.

            “Alvent tuh cerewet tapi nggak tau kenapa gue sayang banget sama cowok badung ini,” lanjut Vita yang dibarengi dengan kemunculan gambarnya juga Alvent yang sudah dirangkul di sampingnya.

            “Gue juga sayang banget sama cewek satu ini,” kata Alvent menutup video itu dengan mengacak-acak rambut Vita.

            Vita menutup mulutnya. Menekannya kuat-kuat agar tangisnya tak pecah di tengah sepinya malam. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedekatannya dengan Alvent yang tak dia ingat. Hubungannya dengan Alvent yang ternyata menempatkan dirinya sebagai kekasih laki-laki itu begitu telak memukul Vita. Dia lupa segalanya.

***

            Alvent memegang pipinya. Entah dari mana hadirnya Vita yang tiba-tiba datang dan menamparnya begitu saja. Setelah satu tamparan itu Vita hanya diam dan menghujaninya dengan tatapan yang tajam.

            “Lo jahat!” kata itu keluar dengan lirih dari mulut Vita. Matanya tetap tajam menatap Alvent.

            “Lo jahat sama gue Vent.” Ulangnya lagi.

            “Siapa yang jahat? Coba ulang sekali lagi.” Tantang Alvent. Laki-laki itu mulai mengetahui arah pembicaraan gadis di depannya ini.

            Vita memalingkan pandangannya. Ditekannya kuat-kuat perasaannya kali ini. Ditahannya benar-benar air mata yang ingin menetes ini.

            “Siapa yang jahat? Gue?” tanya Alvent yang memegang rahang gadis itu dan memaksa Vita untuk menatapnya. “Gue?” ulang Alvent setengah berbisik dengan menjajarkan kepalanya dengan kepala Vita.

            Vita tak menjawab. Dia hanya bisa memandangi Alvent dalam diam. Dia benci dengan laki-laki di hadapannya ini.

            “IYA LO YANG JAHAT!” Vita berteriak. Dihempaskannya tangan Alvent yang memegang rahangnya. Nafasnya memburu.

            “Lo boong sama gue. Lo jahat Vent. Gue benci! Kenapa lo nggak bilang kalo kita ini pacaran. Kenapa malah ngehindar? Biar apa?”

            “Gue nggak menghindar. Elo yang menghindar. Gue tanya? Kalo gue bilang kalo gue ini pacar lo apa lo percaya? Elo yang lupa sama gue Vit bukan gue yang lupa sama lo. Apa masih bisa gue dibilang jahat? Sekarang siapa yang jahat? Gue apa elo?”

            Vita mendengar perkataan Alvent dengan sedih. Memang benar dia yang lupa segalanya. Dia melupakaan Alvent. Bahakan sampai saat ini, sampai dia memuntahkan segala amarahnya kepada laki-laki di depannya dia belum ingat sedekat apa hubungan mereka. Tragis.

            “Sekarang yang ada diingetan lo cuma Hendra. Bukan gue. Bahkan nama gue udah nggak punya tempat di memori otak lo. Gue yakin sampe sekarang pun elo juga belum inget siapa gue dengan jelas. Kalo bukan gara-gara kotak yang gue kasih di kamar lo kemaren mungkin sekarang elo nggak bakalan ngomong kayak gini. Gue tau elo cuma sayang sama Hendra.”

            Dipandanginya Vita dalam-dalam. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Sedikit terluka di sana. Alvent menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman ketir. Dia menemukan jawaban dari mata Vita. Ternyata dugaannya benar. Vita memang belum mengingatnya.

            “Kalo gue cuma sayang sama Hendra kenapa kita pacaran?” tanya Vita dengan telak. Alasan yang tak ingin diungkapakan oleh Alvent. Alasan yang akan menimbulkan luka baru.

            “Kenapa cuma diem? Jawab dong!” paksa Vita yang tak sanggup menahan emosinya lagi.

            “Gue sayang sama elo Vit dan saat gue bilang gitu elo juga jawab kalo lo sayang sama gue.”

            “Terus kalo lo udah tau kalo gue sayang sama lo kenapa lo masih ragu sama gue?”

            Vita menangis di hadapan Alvent. Dia tak tahu mengapa dia dengan bodoh bisa melupakan laki-laki di hadapannya ini. Ditatapnya Alvent yang hanya diam di depannya. Memohon agar Alvent percaya padanya.

            “Kenapa lo ragu sama gue?” tanya Vita sekali lagi. Suaranya beradu dengan isak yang timbul dari bibirnya.

            Alvent balas menatap Vita. Menimbulkan hening yang dalam di antara mereka.

            “Elo mau tau kenapa gue ragu?” tanyanya kepada Vita. “Karna lo lupa saa gue,” lanjutnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Vita.

            Alvent mengatakannya dengan jelas. Menatap gadis itu dengan tajam. Menutupi semua perasaan yang bergejolak di hatinya. Membohongi semua akal pikirannya. Dia rindu pada gadis ini, dia rindu walaupun dia tetap tak teringat.

            “Tapi gue bakal berusaha,” ucap Vita seperti memohon. Meluruhkan segala gengsinya demi laki-laki yang bernama Alvent.

            “Gue bakal inget semua tentang lo. Gue janji.”

            “Kapan lo bakal inget? Sampe kapan gue bakal nunggu?”

            Vita terdiam. Dia tak menyangka bahwa kata-kata Alvent akan begitu dingin. Menyayat sampai tak terhitung jumlahnya.

            “Nggak usah maksa. Gue juga udah nggak berharap kalo lo inget lagi. Bagi gue semuanya udah berakhir. Mending sekarang lo pergi dan balik ke Hendra. Gue udah rela.”

            Alvent sadar dengan kata-katanya. Dia sadar dengan efek yang akan timbul setelahnya. Vita akan terluka bahkan dirinya juga akan terluka. Sekali lagi dia melakukan hal yang tak diinginkan.

            “Kalo lo bisa lupa sama gue, gue juga bisa lupa sama lo.” Dingin Alvent mengatakannya kemudian berlalu dari hadapan Vita.

            Vita hanya bisa terdiam di tempat melihat Alvent menjauh darinya. Meninggalkan semua sakit di dadanya. Suara laki-laki itu masih terngiang di otaknya. Suara yang dingin tapi rapuh.

            Gue bakal inget Vent. Walaupun seumur hidup gue cuma habis buat nginet lo bakal gue lakuin.

***

Rabu, 07 November 2012

Bait Cinta


Bait Cinta


Detik waktu terus berputar
Melebur bersama angan
Mungkin sudah saatnya
Mungkin sudah waktunya

Canda tawa yang renyah terlalu cepat senyap
Derai-derai cinta begitu saja menguap
Angin dari barat pun tak sanggup bertahan
Menopang segala yang berbentuk kenangan

Aku rindu malam setelah matahari tenggelam
Aku rindu pagi setelah gelap pergi
Aku rindu kamu walau cinta telah terbagi

Setiap kata cintamu selalu menimbulkan ragu
Menjalar  hangat dengan palsu
Karna aku tahu sesuatu
Di dalam hati mu tak hanya ada aku

Air mata ini selalu mendesak keluar
Pelan tapi begitu liar
Melenyapkan segala hingar bingar
Pecah dan menggelegar

Aku bukan dirinya yang bisa membagi cinta
Aku bukan kamu yang tak tau malu
Aku hanya wanita yang sedang terluka

Apalah arti gunung yang berdiri
Jika hati ku tak terlihat lagi
Apalah arti deburan ombak yang menari
Jika cinta ku kau khianati

Silahkan kau menghilang
Silahkan pergi mulai sekarang
karna aku masih punya bintang-bintang
yang akan menghangatkan malam ku mendatang

Minggu, 28 Oktober 2012

Sandiwara Cinta 5






Sandiwara Cinta
Part 5

***

    Tidak seperti biasa, pagi ini Vita begitu malas untuk bergerak. Badannya sedari tadi hanya menggulung-gulung di atas kasur. Ke kanan dan ke kiri bergantian. Diambilnya handphone munggil di atas meja kecil itu. 12 panggilan tak terjawab dan 5 pesan tertera di layar handphone.
    Hendra, Yana, Nitya, Hendra, Hendra, Hendra, Yana, Yana, Yana, Hendra, Hendra, Alvent ♥
    Vita mengrenyitkan keningnya. Alvent? Siapa Alvent? Namanya terlalu asing bagi Vita. Bahkan dia baru tahu jika di phonebook nya ada yang bernama Alvent ditambah dia menyinpan nomor itu dengan simbol hati. Vita meneliti angka-angka yang berjejer itu. Masih penasaran. Nama Alvent betanda hati apa maksudnya?

***
    Vita meneguk jus mangga yang berada dihadapannya dengan lambat-lambat. Dilihatnya Yana dan Nitya yang sedang berada bersamanya. Menunggu jawaban dari kedua sahabatnya itu.
    “Alvent siapa sih?” ulangnya sambil menyenderkan badannya ke kursi Cafe Latansa.
    Yana tampak melirik Nitya. Dia bahkan tak tahu harus bagaimana.
    Jangan bilang tentang Alvent dihadapan Vita.
    Kata-kata Hendra kemarin benar-benar membuat kedua sahabat Vita ini bimbang. Vita sudah kembali pada ingatannya yang dulu dan melupakan segala kejadian setelah kecelakaan maut itu. Melupakan apa yang sudah terjadi pada gadis itu belakangan ini bahkan melupakan Alvent yang begitu mencintainya.
    “Yaudah kalo kalian nggak mau cerita, gue bisa cari tau sendiri.”
    Vita bangkit dari kursinya. Mengambil tas dan berjalan keluar dari tempat itu. Sedangkan Yana dan Nitya hanya bisa berdiam melihat langkah Vita yang cepat-cepat itu.
***
    Alvent membaringkan tubuhynya di rumput taman belakang fakultasnya. Dipandanginya awan siang itu dari celah daun-daun mangga yang menutupinya. Ada sebersit rasa sakit yang masih dirasakan. Secepat itukah dia harus merelakan Vita. Semudah itukah dia dilupakan oleh gadis yang telah merebut hatinya. Alvent tersenyum, senyum yang seperti mengejek dirinya sendiri. Dia seperti pecundang siang itu. Dia laki-laki tapi dia hanya bisa diam ketika cintanya lari ke orang lain. Tak ada kata-kata, tak ada perlawanan yang dia lakukan untuk mempertahankan cinta Vita, mempertahankan cinta pertamanya.
    Alvent menutup mata, dalam gelap itu dia berharap bahwa rasa sakit itu segera pergi. Pergi dan hilang entah kemana.
    Siang itu cuaca begitu teduh. Sinar matahari tak begitu menyengat di kulit. Angin pun bertiup sepo-sepoi. Vita yang duduk santai di taman itu tersenyum memandangi seorang laki-laki yang sedang tidur di bawah pohon mangga. Entah bagaimana bisa dia bisa bertemu dengan laki-laki yang sedang dicarinya. Vita mendekat dan duduk persis di samping laki-laki itu. Laki-laki yang di phonebook nya bernama Alvent dengan simbol hati. Vita mengangkat tangannya, ingin menyentuh hidung Alvent tapi tangan itu berhenti diudara ketika melihat laki-laki dihadapannya ini sudah membuka mata.
    “Sorry.” Vita buru-buru menarik tangannya. Meremas-remasnya gugup.
    Alvent tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Vita. Dia melihat Vita ingin menyentuh hidungnya. Kebiasaan Vita yang entah mengapa membuat Alvent senang. Dia senang jika Vita menyentuh hidungnya. Dengan cepat Alvent bangun dan duduk di samping Vita yang sedang gugup.
    Alvent sengaja tetap diam. Dia tak ingin mengatakan apa-apa kali ini. Baginya mengetahui bahwa Vita ada di sampingnya sudah membuatnya bahagia. Dia sudah bahagia kali ini. Ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya yang membuat rasa sakitnya memudar.
    Vita juga ikut diam. Bahkan dia tak berani melihat Alvent. Dia sangat malu. Tapi jika dia terus menerus diam akan sampai kapan?
    “Yang tadi sorry ya, gue nggak maksud apa-apa kok,” kata Vita dengan cepat. Nadanya tak beraturan.
    Alvent tersenyum, geli jika melihat Vita sedang gugup.
    “Nggak masalah.”
    “Gue boleh tanya sesuatu nggak?”
    Alvent menaikkan salah satu alisnya. “Apa?”
    Vita menggigit bibirnya. Dia ragu untuk sesaat.
    “Elo yang namanya Alvent ya?”
    Alvent tersenyum getir. Dia sudah menduga. Vita belum mengingatnya atau mungkin Vita memang benar-benar tidak ingin mengingatnya.
    “Iya. Gue Alvent. Kenapa emang?” katanya mulai dingin menanggapi Vita.
    Vita tampak bersalah setelah melihat ekspresi Alvent. Ada kekecewaan di mata laki-laki itu.
    “Gue salah tanya ya? Kok mukanya nggak enak gitu sih?”
    Alvent memandangi Vita. Dia begitu menyayangi gadis itu bahkan sampai saat ini. Walaupun Vita melupakannya.
    “Enggak kok. Gue nggak enak badan aja. Ada yang mau ditanyain lagi?”
    Vita menggeleng lemah. Dia sudah tak berani menanyakan apa-apa pada Alvent. Entah mengapa dia takut jika membuat laki-laki itu terluka tapi jika dia tak bertanya dia tak akan tahu ada hubungan apa dia dengan Alvent.
    “Keliatannya nggak ada. Gue pergi dulu kalo gitu.”
    Alvent bangkit, membersihkan celana lalu melangkah meninggalkan Vita yang masih duduk kaku di tempatnya.
    Alvent tetap melangkah sampai ada seorang gadis yang menyamai langkahnya. Dia berhenti ternyata Vita mengikutinya.
    “Kenapa ngikutin gue?” tanyanya heran.
    Vita hanya tersenyum saat Alvent bertanya. Dia harus mengetahuinya sekarang.
    “Gue mau tanya lagi. Ikut gue bentar.”
    Vita mengapit lengan Alvent dan menariknya ke bangku terdekat. Vita mengambil handphonenya dan menunjukannya kepada Alvent. Sedangkan Alvent merasa bingung saat Vita menyodorkan benda mungil itu. Dilihatnya ada namanya di layar handphone Vita.
    “Apaan nih? Elo mau ngasih hape ini ke gue? Sorry gue bisa beli sendiri.” Alvent menyerahkan kembali benda itu ke Vita dan bangkit.
    “Bukan.”
    Vta buru-buru memegang tangan Alvent. Mencegah laki-laki itu pergi lagi.
    “Liat deh,” Vita kembali mempelihatkan hanphonenya kepada Avent. “Ini nomor elo kan?”
    Alvent mengangguk. Benar itu memang itu nomornya.
    “Tapi yang bikin gue bingung, gue ngerasa nggak pernah kenal sama elo dan satu lagi gue ngesave nomornya pake tanda hati gini. Aneh nggak sih?”
    Pertanyaan tadi begitu menusuk Alvent pada titik sensitifnya. Menusuk dan menghantamnya dengan telak.
    “Seinget gue ya, gue nyimpen nomor yang pake hati gini buat nyimpen nomor Hendra soalnya dia pacar gue.”
    Vita masih melanjutkan kata-katanya tanpa melihat Alvent. Tanpa melihat bahwa laki-laki itu sudah ingin marah dan berteriak di hadapan Vita. Frustasi dengan sikap Vita yang dengan mudah menghapusnya dari hidup gadis itu.
    “Sebenernya kita ada hubungan apa sih?”
    Alvent melepas tangan Vita yang masih memegang lengannya dan mengembalikan hanphone gadis itu.
    “Kita temenan.”
    “Nggak mungkin kalo cuma temenan. Gue cuma bakal nyimpen nomor pake tanda hati gini buat orang yang gue sayang.”
    Alvent memalingkan pandangannya dari Vita. Dia tak tahu harus bagaimana.
    “Siniin hapenya.”
    Alvent merebut kembali benda itu lalu menekan-nekan tombolnya dan mengembalikannya kepada Vita.
    “Nomor gue udah gue hapus dari phonebook lo. Anggep aja kita nggak pernah kenal dan anggep kalo kejadiaan ini nggak pernah kejadian. Masalahnya selesekan?”
    Alvent tersenyum lalu meninggalkan Vita. Langkahnya cepat-cepat. Matanya terasa panas. Dia ingin menangis. Dan di tengah keramaian siang itu air mata Alvent mengalir juga. Jatuh satu demi satu walaupun sudah disekanya. Telah ditahannya. Tapi kesedihan itu tak bisa dihindarinya. Ternyata seperti ini rasa sakitnya. Sakit yang benar-benar sakit. Cinta yang diharapkan menumbuhkan bulir-bulir kebahagian ternyata hanya bisa menjatuhkan kepedihan.