SELAMAT DATANG

Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...

Rabu, 12 Oktober 2011

Ternyata Aku Suka Kamu (Kamu??)

Kamu???

-ooo-


            4 hari lagi hasil wawancaranya dengan kapten basket harus diserahkan kepada Pak Christ. Vita bingung sendiri. Draft pertanyaannya sudah siap dari kemarin tapi narasumbernya tak bisa ditemui. Bukan tak bisa tapi belum ditemui.


            “Apa gue ngarang aja ya?”

            Tiba-tiba ide nakal muncul dikepala cewek tomboy itu.

            “Ngarang aja Vit. Daripada lo pusing,” malaikat jahat membujuk Vita. Tapi malaikat baik tak terima. “Jangan Vita kamu itu anak baik. Berbohong itu perbuatan tidak terpuji.”

            Vita bingung sendiri melihat malaikat jahat dan baik malah berantem.

            “Ngarang Vit.”

            “Jangan Vita.”

            “Ngarang!”

            “Jangan!!”

            “Bang Hendra!!!”

            Vita keluar mencari abangnya. Meninggalkan malaikat-malaikat yang sedang berantem itu.

            “Kemana sih tu orang,” gumam Vita yang tak kunjung menemukan abangnya.


            Di kamarnya nggak ada. Di teras juga nggak ada. Di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, toilet. Hampir seluruh penjuru rumahnya Vita kelilingi, tapi Hendra tak juga ditemukan.


            “Ha ha ha, kamu bisa aja.”

            Samar-samar Vita mendengar suara bang Hendra sedang tertawa.

            “Pasti lagi telpon-telponan.”


            Dengan segera Vita menuju loteng rumanya. Tempat favorit Hendra dan Vita. Karena di sini mereka bisa melihat keindahan dunia di malam hari. Dengan angin malam dan bintang yang bertaburan.


            Hendra menoleh karna mendengar suara langkah Vita. Dia tersenyum dan menaikan tangannya yang membentuk angka satu. Isyarat untuk Vita agar menunggunya sebentar.


            “Udah dulu ya. Entar aku telpon kamu lagi.”


            Klik. Hendra memutuskan sambungan teleponnya.


            “Kenapa?” tanyanya yang melihat Vita sudah duduk disampingnya. Walaupun Hendra sering isenga sama Vita, bagi Vita, Hendra adalah abang terbaiknya. Dia selalu tau apa yang terjadi pada Vita, padahal Vita tak pernah cerita.


            Vita cerita semuanya. Cerita tentang hukuman Pak Christ. Kapten basket yang susah banget ditemuin. Dari awal hingga akhir. Mulutnya terus bergerak mengeluarkan unek-uneknya. Tak pernah Dia senyaman ini mengeluarkan pikirannya.


            “Terus gue bisa bantu lo apa?” tanya Hendra saat Vita telah menyelesaikan ceritanya.

            “Nggak usah bang. Gue cuma mau cerita.”

            Hendra merangkul adik perempuannya itu. “Entar gue sms Age aja, biar dia bisa bantuin lo ketemu Alvent.”

            Vita tersenyum. Ditaruh kepalanya dibahu abangnya. Nyaman sekali.

            “Tadi lo telpon sama siapa?”

            “Sama Butet.”

            “Udah jadian emangnya?” Iseng Vita tanya.

            “Udah gue tembak tapi belom dijawab.”

            “Kaisan deh lo. Ha ha ha .”

            “Suka bener lo godain gue.”

            Lalu mereka tertawa bersama. Bulan dan bintang jadi saksi mereka. Malam yang indah bagi kakak-beradik itu.

-ooo-

             Pletak!!!

             Kaleng bekas minuman itu menimpuk kepala Alvent. Walaupun nggak begitu keras tapi cukup meninggalkan rasa sakit.


            “Siapa sih nih yang iseng???” Alvent celingak-celinguk mencari orang yang entah sengaja atau tidak menimpuknya tadi.

            “Mampus gue, bisa mati kalo ketauan,” kata seseorang yang sedang berlindung dibalik pohon beringin dekat lapangan basket sekolahnya.

            “Vent!!! Buruan latian!!!” teriak Age saat melihat Alvent tak kunjung bergabung dengan anak basket lainnya.

            Dengan masih penasaran, Alvent berjalan menuju teman-temannya. Sesekali menengok ke belakang. Siapa tau orang yang menimpuknya menampakkan diri.


            “Untung nggak ketauan,” ucap orang yang dibalik pohon beringin itu seraya mengelus dadanya.

            “Eh, itu yang namanya Alvent? Kok gue kayak pernah liat, tapi dimana?

            Orang itu menggumam sendiri. Dari balik pohon, Dia terus menerus memperhatikan Alvent yang berada di tengah lapangan basket. Seperti fatamorgana. Antara ada dan tiada.



            “Oper...”


            “Shoot...”


            “Lari... Lari...”


            Ramai sekali suara anak basket SMA Persada. Gemuruh dan penuh semangat. Teriakan yang saling saut menyaut menjadi selingan diantara suara pantulan bola basket mereka.


            Alvent tak fokus latihan sore ini. Perasaannya mengatakan bahwa ada orang yang memperhatikan. Memang dari kecil Alvent sangan sensitif perasaannya. Dan tanpa disengaja bola basket yang ingin dimasukan ke ring terlempar jauh ke pinggir lapangan.



            Duk!!!


            Sepertinya takdir sedang mempermainkan dua anak manusia ini. Tanpa saling sengaja, mereka ‘menyakiti’ satu sama lain. Dan masih di tempat yang sama. Di balik pohon beringin.


            “Aduh,” rintih seorang yang terkena bola basket Alvent. “Siapa sih nih yang nimpuk?”


            Alvent menemukan bola basketnya yang sedang dipegang oleh seorang wanita. Tapi dalam sekejap Dia terpanah. Tak menyangka akan secepat ini bertatap muka dengan wanita itu.


            “Vi..ta..???” dengan terbata Alvent menyebutkan nama wanita itu.

            Vita melihat seorang cowok berdiri dihadapannya.

            “Iya gue Vita,” jawabnya. “Lo yang nimpuk gue ya?”

            “Ck, masih aja galak,” gumam Alvent.

            “Apa lo bilang?” Vita sepertinya mendengar ucapan Alvent tadi.

            “Enggak. Siniin bola gue!”

            Alvent berusaha merebut bola dari tangan Vita. Tapi dengan lihai Vita menghalanginya.

            “Stop!” kata Vita akhirnya. “Lo Alvent ya?” tanyanya masih dengan menggenggam bola basket Alvent.

            “Iya gue Alvent,” jawabnya. “Udah siniin bolanya! Gue mau latian lagi bebek Cina.” Sengaja Alvent memanggil Vita ‘bebek Cina’, karena itu adalah sebutan Alvent kepada Vita sewaktu kecil.

            Vita kaget mendengar ucapan Alvent. Bebek Cina. Dia kangen dengan sebutan itu.


            Hup!!


            Alvent akhirnya merebut bola dari tangan Vita yang sedang melamun.

            “Entar gue sms lo,” bisik Alvent ditelinga Vita lalu meninggalkannya.

            Alvent senyum-senyum sendiri melihat ekspresi Vita.

            “Akhirnya bebek Cina ketemu juga sama...”

            “Dasar lo panda Jepang!!!” Vita teriak ke Alvent.

            “Bebek Cina!!!” Alvent balas berteriak lalu tertawa senang.

            “Benerkan gue pernah liat Alvent.” Ucap Vita.


            “Alvent itu panda Jepang. Jadi gue harus wawancara sama panda Jepang jelek itu???”

            Vita melongo tak percaya. Tak menduga dengan permainan takdir. 2 tahun sekolah di SMA Persada. Sekolah yang sama dengan Alvent tapi baru bertemu hari ini. Tepat 5 tahun mereka berpisah.

Ternyata Aku Suka Kau (Siapa Alvent??)

Siapa Alvent???


            Duk

            Duk

            Duk


            Alvent memainkan bola basket ditangannya dengan lihai. Tatapan kagum dari kaum hawa sedari tadi menghujam dirinya. Bangga tapi risih juga, pikirnya.


            “Gila!! Emang ya, kalo udah punya kharisma mau ngapain aja oke!”

            Age geleng-geleng kepala melihat kepopuleran sobatnya itu. Udah ganteng jadi kapten basket pula.



            Blassshhhh...



            Satu shoot three point dari Alvent dengan manis masuk ke ring. Para cewek yang sedang bergerombal di dekat lapanganpun makin terpanah.



            “Tambah suka deh gue sama kak Alvent,” ucap salah seorang siswi perempuan.

            “Kapan gue punya pacar kayak kak Alvent,” temennya ikut berkomentar.



            “Nggak usah gaya deh Vent. Makin terpesona aja tuh cewek-cewek,” kata Age yang sedikit sensi.



            Alvent malah menjadi-jadi, Dia semakin menunjukan kepintarannya dalam memainkan bola basket. Dari mendribling hingga melakukan three shoot point seperti tadi. Dan ternyata itu semakin membuat para cewek ternganga.



            “Gimana Ge? Keren nggak gue?” Alvent dengan sengaja bertanya pada Age.

            “You mean??” Age jadi sewot sendiri.

            “Pasti keren,” jawab Alvent. “Secara Alvent gitu..”


            “Wooo pede,” Age noyor Alvent lalu mereka berdua ketawa sendiri. Senang sama suasana kayak gini. Masa-masa di SMA yang bakal terjadi cuma satu kali. Satu kali yang nggak bisa diulang lagi.


            “Nggak kerasa kontrak kita di SMA tinggal setahun lagi,” ucap Age lembut. Rambutnya bergoyang seiring angin yang menerpa wajahnya.


            Alvent mengangguk, setuju sama pernyataan sahabatnya. “Yoi, nggak kerasa kita udah kelas 12. Perasaan kemaren baru lulus SMP haha.”



            Suasana jadi hening. Mereka mengedarkan matanya ke bangunan di belakang lapangan basket. Gedung sekolah mereka yang tinggal satu tahun lagi menampung mereka. Menampung segala aspirasi dan kenakalan masa-masa remaja mereka



            “Haha iya deh yang masa SMA nya penuh gelora cinta.” Age menyenggol lengan Alvent. Senang kalo bisa menggodanya.


            “Emang elo enggak apa?”

            Senjata makan tuan, pikir Age.

            “Tapi banyakan elo daripada gue,” Age keukeh sama pendapatnya.

            “Masa? Perasaan pacarnya banyakkan elo deh Ge daripada gue.”

            “Coba gue tanya, di SMA elo pacaran sama siapa aja?” Tantang Age.

            Alvent tampak berpikir. Entah berapa banyak cewek yang dipacarinya.

            “Satu..dua..tiga.. Kayaknya Cuma enem deh,” jawabnya setelah mengingat-ngingat cukup lama.

            “Nadya udah lo itung?” Alvent ngangguk.

            “Bella?” Alvent ngangguk lagi.

            “Pia?”

            “Oh iya lupa gue,” jawab Alvent. “Berarti tujuh doang.”

            “Firda? Febe?” Age membantu Alvent menghitung mantan pacarnya itu.

            “Febe mah udah gue itung.” Alvent mantap menjawab. “Kalo Firdakan masih jadi pacar belom jadi mantan,” sambungnya lagi.

            “Oh iya deng, tapi masih banyakan elo lah Vent, gue aja cuma lima doang.” Kata Age kagum sama reputasi cinta Alvent. “Udah ganteng, kapten basket, playboy lagi ckck paket komplit haha,” sambungnya lagi.

            “Emang makanan,” cibir Alvent nggak terima.



            Age bingung juga sama sahabatnya ini. Kok bisa ya nggak betah pacaran, padahal yang Age tau mantan-mantannya Alvent ini cantik-cantik semua. Dan yang Firda ini badannya tinggi kayak model tapi kemaren, Alvent curhat kalo udah bosen sama Firda. Nah loh?



            Age pernah iseng tanya sama Alvent, kenapa Dia susah banget buat setia, dan jawabannya itu buat Age dongkol. Katanya Dia masih suka sama cewek dimasa lalunya, dan mantan-mantannya ini Cuma jadi pelampiasannya aja. Gila nggak tuh? Pikir Age saat itu.



            “Eh Vent kemaren lo dicariin,” kata Age yang baru ingat kalo kemaren Vita nyari Alvent.

            “Siapa?” Alvent tanya dengan menyenderkan punggungnya di pohon pinggir lapangan basket.

            “Sama Vita, katanya Dia mau wawancara elo,” jawab Age santai.

            “Siapa tadi lo bilang?” Alvent kaget.

            “Vita,” ulangnya lagi.


            “Vita???”


-ooo-


            Vita sibuk menulis dengan pensil dibukunya. Kadang juga dcoret-coret sendiri. Frustasi sama tugas dari Pak Chris yang nggak kelar-kelar, padahal waktunya tinggal 5 hari lagi, dan yang bikin tambah pusing, Dia juga belom ketemu sama yang namanya Alvent.


            “Hufft.” Vita meniup rambut yang bergelayut di keningnya.

            “Apa gue minta keringanan ya sama pak Chris?” Vita ngomong sendiri.

            “Tau ah bodo. Mau selese kek mau enggak kek, emang gue pikirin,” sambungnya kemudian, yang benar-benar pasrah sama tugas  mewawancarai kapten basket sekolahnya.


-ooo-


            Alvent menarik-narik tangan Age. Pengen cepet-cepet liahat muka Vita. Entah perasaannya bilang kalo Vitalah orang yang dicarinya dari dulu. Cewek dimasa lalunya.


            “Yang mana orangnya?”


            Alvent dan Age sudah berada di depan kelas Vita. Mereka berdua m,elihat isi kelas Vita tapi ternyata di sana tidak ada cewek, isinya cowok semua.


            “Nggak ada Ge,” kata Avent.

            “Ke kantin mungkin,” jawab Age santai. Maklumlah sekarang masih istirahat.

            “Ya udah buru kita ke kantin.”


            Alvent semangat sekali. Age sampai bingung sama sahabatanya ini. Pasti ada udang di balik bakwan, batinya bicara ngaco, pengaruh perutnya yang laper.


-ooo-


            “Jiah nyusul juga nih anak ke sini,” cibir Yana waktu liat Vita gabung dengannya di kantin.

            Vita tak peduli ucapan Yana. Dia langsung pesen makanan dan minuman.

            “Katanya mau bikin daftar pertanyaan Vit?” tanya Yana yang dongkol juga dicuekin Vita.

            “Males gue. Ketemu orangnya aja belom,” jawabnya yang bener-bener males kalo ngomongin tugas itu.

            “Lah terus gimana dong? Entar hukumannya tambah berat loh.” Yana benar-benar tak tahu kondisi mood Vita sekarang. Dia tetep aja nanya-nanya.

            “Bahas yang lain aja,” kata Vita yang berarti ‘Bisa nggak, nggak usah bicarain tuga itu?’

            Yana mati kutu. Menurut sama Vita. Dia akhirnya ngomongin tentang Suju, boy band Korea yang sedang digandrungi sama remaja Indonesia. Padahal Yana Cuma tau Siwon doang.


-ooo-


            Alvent dan Age sudah sampai di pintu kantin. Mata Alvent dengan jeli melihat satu persatu wajah yang sedang ada di ruang tersebut. Sudut demi sudut Dia jelajaahi dengan teliti, mencoba mencari Vitanya, ya semoga Vita yang dimaksud Age adalah Vitanya.


            Sedangkan Age sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat lari-larian dari kelas Vita ke kantin. Kelas Vita ada di lantai 3 sedangkan kantin ada di lantai 1.


            "Nah itu yang namanya Vita Vent,” tunjuk Age padasalah seorang yang sedang makan semangkok bankso.

            “Yang mana?” tanya Alvent yang belum menemukan objek pencariannya itu.

            “Itu yang lagi makan bakso di pojok kantin sama temen ceweknya,” jelas Age lagi.

            “Yang rambutnya pendek itu Ge?” tanya Alvent lagi.

            “Iya, yang rambutnya pendek,” jawab Age.



            Deg. Jantung Alvent seperti berhenti berdetak. Vita yang ada di depannya ini tak beda dengan Vita yang pernah ada dihidupnya 5 tahun yang lalu. Masih orang yang sama, senyum yang sama dan dengan cara melihat yang sama. Semuanya masih sama, Vita yang dimaksud Age adalah Vitanya, ya Vitanya Alvent.

Ternyata Aku Suka Kau (Mon'ster'Day)

MON”STER”DAY

                Gubrak.

                Buk.

                Glodak!!!


                “Ya ampun Vita! Kamu ini kenapa?”

                Mama tampak bingung melihat putrinya terjatuh dari tangga rumah mereka.

                Vita malah nyengir. “Hehehe.”

                “Biasa mom, Vita telat bangun.”

                Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebiasaan putrinya itu.


                Susu satu gelas dan roti satu tangkep menjadi santapan pagi Vita. Walaupun telat bangun, Dia tidak akan lupa dengan sarapannya. Mending telat daripada kelaperan, Vita memegang teguh prinsip tersebut.


                “Mom, Vita berangkat dulu,” pamitnya setelah menghabiskan sarapan.


                Jam 7 kurang 15 menit Vita baru berangkat sekolah. Seperti biasa gadis itu harus menggunakan bus untuk mencampai sekolahnya.


                “Jangan telat jangan telat.” Vita terus komat-kamit di dalam bus sambil terus menerus melihat jam tangannya. Maklum, hari ini adalah hari Senin, yaitu hari yang menuntut para pelajar untuk sampai sekolah lebih awal dari biasanya.

-ooo-


                “VITA!!!!”


                Seseorang dengan suara menggelegar memanggil cewek berambut pendek itu. Sehingga aksi diam-diam menyusup ke barisan kelasnya terhenti.


                “Waduh bahaya nih,” batinnya berbicara saat melihat siapa yang memanggilnya.

                “Kebiasaan! Sudah tau telat malah main seenaknya masuk barisa.” Omel Pak Christ percuma. Kenapa? Karna omelannya aakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri Vita.

                “Sekarang kamu masuk ke barisan anak-anak yang telat! Dan sehabis upacara kamu menghadap saya.” Lanjut guru BK tersebut yang membuat Vita sebal, karna gagal mengelabuhi gurunya itu.

-ooo-

                Hukuman dari Pak Christ membuat Vita mencak-mencak sendiri sepanjang hari ini. Dan membuat Yana, sahabatnya, kebingungan.



                “Kenapa sih Vit? Dari tadi lo ngomel-ngomel nggak jelas,” Yana memulai introgasinya.

                Vita menghela nafas dan mulai menceritakan kejadian sehabis upacara tadi.



                Pak Christ senyum-senyum melihat Vita. Dan itu membuat murid dihadapannya il-feel berat.

                “Jadi saya akan memberi hukuman pada kamu,” beliau mulai berbicara. “Hukumannya kamu harus,” sengaja Pak Christ menggantungkan kalimatnya agar Vita penasaran. Biar saya kerjain, siapa suruh jadi murid setiap senin telat, batin guru BK itu.


                “Harus apa pak?” Vita mulai terpancing.


                Pak Christ mengetuk-ketukan jarinya di meja kerjanya. Sengaja mengulur waktu.


                “Harus apa sih pak?” emosi Vita mulai naik menghadapi guru di depannya ini.


                “Harus menginterview ketua basket untuk bahan berita majalah sekolah bulan depan.”


                “Loh pak? Sayakan bukan anak jurnalis!” Vita ngotot menolak hukuman dari Pak Christ.

                “Terus?” tanya Pak Christ tak peduli. “Saya tidak mau tau. Pokoknya saya kasih kamu waktu SATU MINGGU untuk mengerjakannya,” sambungnya lagi dengan menekan kata `satu minggu`.



                Yana tertawa mendengar cerita sahabatnya itu.

                Kasian bener nasib tem gue ini, pikir Yana sesaat.
Sebenarnya Dia kasihan dengan nasib Vita, tapi cara Vita menceritakan kejadian tadi pagi membuatnyalah tertawa.

                “Berarti lo bakal deket sama Alvent dong?” tanya Yana antusias, tapi juga sedikit khawatir, maklumlah ketua basket merekakan cuek.


                “Siapa tuh Alvent?”

                Yana bengong mendengar pertanyaan Vita. Gimana mau interview ketua basket, kalo sama Alvent aja nggak tau?


                “Lo nggak tau Alvent?” Vita menggeleng.


                “Lo tau ketua basket kita?” Vita lagi-lagi menggeleng.


                Plak! Yana memukul jidatnya. Frustasi punya temen yang nggak gaul kayak Vita.


                “Alvent itu ketua basket sekolah kita,” jelas Yana yang berusaha sabar.

                “Oh ketua basket kita itu Alvent.” Vita manggut-manggut sendiri. “Terus orangnya yang mana?”


                Plak! Sekarang giliran jidat Vita yang dipukul Yana.

-ooo-

                Viat menatap malas anggota basket SMA Persada yang sedang berlatih sore ini. Yup! Jadwal latihan mereka adalah hari Senin dan Jumat. Mereka tampak gembira dengan bola-bola basket itu. Tapi ternyata hal itu tak dirasakan oleh Vita. Sudah hampir satu jam Dia duduk di bangku yang tak jauh dari lapangan basket sekolahnya. Tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang-datang juga.


                Pletuk!


                Berulang kali balon dari permen karet yang dikunyah Vita meletus. Itulah hal yang dilakukannya untuk menghilangkan rasa bosan.


                “Ge!” panggil Vita saat melihat salah satu temannya lewat. Age itu juga anak basket.

                “Ngapain lo di sini?” tanya Age bingung saat melihat Vita.

                “He he he,” Vita nyengir. “Pengen ketemu ketua basket nih,” sambungnya lagi.

                “Dasar lo,” Age noyor kepala Vita. “Tungguin aja, bentar lagi Alvent juga dateng kok.”

                “Gue kesana dulu ya,” tunjuk Age kepada teman-teman basketnya.

                “Bentaran,” tiba-tiba tangan Vita menarik baju Age. “Temenin gue nungguin Alvent,” pinta Vita dengan memasang muka melasnya.


                Akhirnya Age menuruti permintaan Vita karna tak tega melihat muka melasnya tadi. Vita senang akhirnya ada temen ngobrol. Selama menunggu, mereka banyak bertukar cerita, bercanda, dan membicarakan bulu tangkis, olahraga kesukaan mereka, selain basket tentunya untuk Age.


                Drrt drrt.

                Suara handphone bergetar. Vita buru-buru melihat handphonenya. Siapa tau sms dari Mama atau kakaknya.


                “Punya gue Vit,” dengan polos Age melihatkan handphonenya.

                “Gue pikir punya gue,” Vita ngeles. Ngenes amat nggak ada yang sms gue, batin Vita.


                “Vit, gue ke anak-anak dulu ya,” kata Age setelah membaca sms tadi.

                Sekarang Vita tak menahan Age untuk berlatih basket. “Oke!”

                Age meninggalkan Vita, tapi baru tiga langkah, cowok itu berbalik lagi. “Oh iya Vit. Alvent sore ini nggak dateng. Kalo mau ketemu besok jumat dateng lagi aja.” Dengan sedikit berteriak Age memberitahu Vita lalu meninggalkan cewek itu lagi yang tiba-tiba bengong sebengong-bengongnya.


                “Lah terus ngapain gue disini?” tanyanya entah pada siapa.



                Vita keluar sekolah dengan manyun. Bibirnya sudah baju sampai batas maksimal.


                “Udah capek-capek nunggu, eh malah nggak dateng,”gerutunya sambil jalan menuju halte bus dekat SMA Persada.


-ooo-

                “Dari mana lo?” sebuah pertanyaan menyambut kedatangan Vita di rumah.


                “Dari sekolahlah,” Vita nggak mood jawab pertanyaan abangnya itu.


                “Ngapain lo di sekolah sampe sore? Tumben betah nongkrong di sekolah.”


                “Liatin anak basket latian.”


                Byur!!


                Minuman dimulut Hendra keluar semua. Tak hanya itu ternyata air itu menyembur ke badan Vita.


                “Sial bener nasib gue hari ini,” gerutunya.


                “Sorry Vit nggak sengaja.”


                “Rese lo bang!” Vita nggak terima. “Dasar nggak elo, enggak Alvent, enggak pak Christ, ngebuat hari senin gue suram!!”


                Hendra bingung melihat adeknya marah-marah nggak jelas sampai-sampai pintu kamar ikut dibanting sama Dia.


                “Lagi dapet kali ya?” Hendra manggut-manggut, mencoba mengerti cewek kalo lagi datang bulan.