SELAMAT DATANG
Ingin mengetahui siapa saya? Ayo, tinggal baca blog saya. Banyak hal yang akan saya bagi disini. Let's fun with me...
Minggu, 28 Oktober 2012
Sandiwara Cinta 5
Sandiwara Cinta
Part 5
***
Tidak seperti biasa, pagi ini Vita begitu malas untuk bergerak. Badannya sedari tadi hanya menggulung-gulung di atas kasur. Ke kanan dan ke kiri bergantian. Diambilnya handphone munggil di atas meja kecil itu. 12 panggilan tak terjawab dan 5 pesan tertera di layar handphone.
Hendra, Yana, Nitya, Hendra, Hendra, Hendra, Yana, Yana, Yana, Hendra, Hendra, Alvent ♥
Vita mengrenyitkan keningnya. Alvent? Siapa Alvent? Namanya terlalu asing bagi Vita. Bahkan dia baru tahu jika di phonebook nya ada yang bernama Alvent ditambah dia menyinpan nomor itu dengan simbol hati. Vita meneliti angka-angka yang berjejer itu. Masih penasaran. Nama Alvent betanda hati apa maksudnya?
***
Vita meneguk jus mangga yang berada dihadapannya dengan lambat-lambat. Dilihatnya Yana dan Nitya yang sedang berada bersamanya. Menunggu jawaban dari kedua sahabatnya itu.
“Alvent siapa sih?” ulangnya sambil menyenderkan badannya ke kursi Cafe Latansa.
Yana tampak melirik Nitya. Dia bahkan tak tahu harus bagaimana.
Jangan bilang tentang Alvent dihadapan Vita.
Kata-kata Hendra kemarin benar-benar membuat kedua sahabat Vita ini bimbang. Vita sudah kembali pada ingatannya yang dulu dan melupakan segala kejadian setelah kecelakaan maut itu. Melupakan apa yang sudah terjadi pada gadis itu belakangan ini bahkan melupakan Alvent yang begitu mencintainya.
“Yaudah kalo kalian nggak mau cerita, gue bisa cari tau sendiri.”
Vita bangkit dari kursinya. Mengambil tas dan berjalan keluar dari tempat itu. Sedangkan Yana dan Nitya hanya bisa berdiam melihat langkah Vita yang cepat-cepat itu.
***
Alvent membaringkan tubuhynya di rumput taman belakang fakultasnya. Dipandanginya awan siang itu dari celah daun-daun mangga yang menutupinya. Ada sebersit rasa sakit yang masih dirasakan. Secepat itukah dia harus merelakan Vita. Semudah itukah dia dilupakan oleh gadis yang telah merebut hatinya. Alvent tersenyum, senyum yang seperti mengejek dirinya sendiri. Dia seperti pecundang siang itu. Dia laki-laki tapi dia hanya bisa diam ketika cintanya lari ke orang lain. Tak ada kata-kata, tak ada perlawanan yang dia lakukan untuk mempertahankan cinta Vita, mempertahankan cinta pertamanya.
Alvent menutup mata, dalam gelap itu dia berharap bahwa rasa sakit itu segera pergi. Pergi dan hilang entah kemana.
Siang itu cuaca begitu teduh. Sinar matahari tak begitu menyengat di kulit. Angin pun bertiup sepo-sepoi. Vita yang duduk santai di taman itu tersenyum memandangi seorang laki-laki yang sedang tidur di bawah pohon mangga. Entah bagaimana bisa dia bisa bertemu dengan laki-laki yang sedang dicarinya. Vita mendekat dan duduk persis di samping laki-laki itu. Laki-laki yang di phonebook nya bernama Alvent dengan simbol hati. Vita mengangkat tangannya, ingin menyentuh hidung Alvent tapi tangan itu berhenti diudara ketika melihat laki-laki dihadapannya ini sudah membuka mata.
“Sorry.” Vita buru-buru menarik tangannya. Meremas-remasnya gugup.
Alvent tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Vita. Dia melihat Vita ingin menyentuh hidungnya. Kebiasaan Vita yang entah mengapa membuat Alvent senang. Dia senang jika Vita menyentuh hidungnya. Dengan cepat Alvent bangun dan duduk di samping Vita yang sedang gugup.
Alvent sengaja tetap diam. Dia tak ingin mengatakan apa-apa kali ini. Baginya mengetahui bahwa Vita ada di sampingnya sudah membuatnya bahagia. Dia sudah bahagia kali ini. Ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya yang membuat rasa sakitnya memudar.
Vita juga ikut diam. Bahkan dia tak berani melihat Alvent. Dia sangat malu. Tapi jika dia terus menerus diam akan sampai kapan?
“Yang tadi sorry ya, gue nggak maksud apa-apa kok,” kata Vita dengan cepat. Nadanya tak beraturan.
Alvent tersenyum, geli jika melihat Vita sedang gugup.
“Nggak masalah.”
“Gue boleh tanya sesuatu nggak?”
Alvent menaikkan salah satu alisnya. “Apa?”
Vita menggigit bibirnya. Dia ragu untuk sesaat.
“Elo yang namanya Alvent ya?”
Alvent tersenyum getir. Dia sudah menduga. Vita belum mengingatnya atau mungkin Vita memang benar-benar tidak ingin mengingatnya.
“Iya. Gue Alvent. Kenapa emang?” katanya mulai dingin menanggapi Vita.
Vita tampak bersalah setelah melihat ekspresi Alvent. Ada kekecewaan di mata laki-laki itu.
“Gue salah tanya ya? Kok mukanya nggak enak gitu sih?”
Alvent memandangi Vita. Dia begitu menyayangi gadis itu bahkan sampai saat ini. Walaupun Vita melupakannya.
“Enggak kok. Gue nggak enak badan aja. Ada yang mau ditanyain lagi?”
Vita menggeleng lemah. Dia sudah tak berani menanyakan apa-apa pada Alvent. Entah mengapa dia takut jika membuat laki-laki itu terluka tapi jika dia tak bertanya dia tak akan tahu ada hubungan apa dia dengan Alvent.
“Keliatannya nggak ada. Gue pergi dulu kalo gitu.”
Alvent bangkit, membersihkan celana lalu melangkah meninggalkan Vita yang masih duduk kaku di tempatnya.
Alvent tetap melangkah sampai ada seorang gadis yang menyamai langkahnya. Dia berhenti ternyata Vita mengikutinya.
“Kenapa ngikutin gue?” tanyanya heran.
Vita hanya tersenyum saat Alvent bertanya. Dia harus mengetahuinya sekarang.
“Gue mau tanya lagi. Ikut gue bentar.”
Vita mengapit lengan Alvent dan menariknya ke bangku terdekat. Vita mengambil handphonenya dan menunjukannya kepada Alvent. Sedangkan Alvent merasa bingung saat Vita menyodorkan benda mungil itu. Dilihatnya ada namanya di layar handphone Vita.
“Apaan nih? Elo mau ngasih hape ini ke gue? Sorry gue bisa beli sendiri.” Alvent menyerahkan kembali benda itu ke Vita dan bangkit.
“Bukan.”
Vta buru-buru memegang tangan Alvent. Mencegah laki-laki itu pergi lagi.
“Liat deh,” Vita kembali mempelihatkan hanphonenya kepada Avent. “Ini nomor elo kan?”
Alvent mengangguk. Benar itu memang itu nomornya.
“Tapi yang bikin gue bingung, gue ngerasa nggak pernah kenal sama elo dan satu lagi gue ngesave nomornya pake tanda hati gini. Aneh nggak sih?”
Pertanyaan tadi begitu menusuk Alvent pada titik sensitifnya. Menusuk dan menghantamnya dengan telak.
“Seinget gue ya, gue nyimpen nomor yang pake hati gini buat nyimpen nomor Hendra soalnya dia pacar gue.”
Vita masih melanjutkan kata-katanya tanpa melihat Alvent. Tanpa melihat bahwa laki-laki itu sudah ingin marah dan berteriak di hadapan Vita. Frustasi dengan sikap Vita yang dengan mudah menghapusnya dari hidup gadis itu.
“Sebenernya kita ada hubungan apa sih?”
Alvent melepas tangan Vita yang masih memegang lengannya dan mengembalikan hanphone gadis itu.
“Kita temenan.”
“Nggak mungkin kalo cuma temenan. Gue cuma bakal nyimpen nomor pake tanda hati gini buat orang yang gue sayang.”
Alvent memalingkan pandangannya dari Vita. Dia tak tahu harus bagaimana.
“Siniin hapenya.”
Alvent merebut kembali benda itu lalu menekan-nekan tombolnya dan mengembalikannya kepada Vita.
“Nomor gue udah gue hapus dari phonebook lo. Anggep aja kita nggak pernah kenal dan anggep kalo kejadiaan ini nggak pernah kejadian. Masalahnya selesekan?”
Alvent tersenyum lalu meninggalkan Vita. Langkahnya cepat-cepat. Matanya terasa panas. Dia ingin menangis. Dan di tengah keramaian siang itu air mata Alvent mengalir juga. Jatuh satu demi satu walaupun sudah disekanya. Telah ditahannya. Tapi kesedihan itu tak bisa dihindarinya. Ternyata seperti ini rasa sakitnya. Sakit yang benar-benar sakit. Cinta yang diharapkan menumbuhkan bulir-bulir kebahagian ternyata hanya bisa menjatuhkan kepedihan.
Sabtu, 15 September 2012
Sandiwara Cinta #4
Sandiwara Cinta
Part 4
***
“Keren lo Vit. Nih mobil
gue buat elo.”
“Yakin?” kata Vita tak percaya saat
Nitya menyodorkan kunci mobil BMW nya.
“Iyalah. Elokan menang taruhan. Elo ingetkan
taruhan kita dulu?”
Vita terhenyak lalu dengan ragu dia
mengangguk.
“Nggak nyangka kita bisa mainin
playboy cap kampung itu,” timpal Greys dengan geleng-geleng kepala.
Vita ikut tertawa bersama mereka. Ya
dia memang sedang taruhan dengan teman-temannya untuk menyakiti Hendra jagoan
sekolah mereka dan sekarang misi mereka berhasil.
“Jadi gue barang taruhan elo semua?”
suara yang berat itu mengagetkan Vita dan teman-temannya. Ternyata Hendra sudah
ada di antara mereka entah dari kapan.
“Brengsek ya lo Vit. Gue udah tulus
cinta sama elo malah kayak gini balesannya?”
Vita hanya diam dan menunduk mendengar
makian dari Hendra. Air matanya sudah meleleh.
“Aku bisa jelasin sama kamu.”
“Aku nggak butuh
penjelasan dari kamu!”
Hendra pergi dari hadapan Vita
dengan langkah cepat-cepat. Hatinya sakit mendengar semuanya. Semua yang telah
diucapkan oleh Vita tadi begitu dalam. Perih. Sakit.
“Dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin
semuanya.”
Vita mengekor di belakang Hendra.
Beribu maaf telah terucap dari bibirnya tapi tak sedikitpun Hendra meliriknya.
Langkahnya yang tegas dan cepat tak bisa diimbangi Vita.
Braakkk!!!
Hendra tercekat mendengar suara itu.
Ditengokannya kepalanya ke belakang. Vita masih ada di belakangnya. Tapi gadis
itu sudah diam di tempatnya. Dia tak lagi mencegah Hendra untuk pergi, Vita
sudah tak meminta Hendra untuk mendengarkan penjelasannya. Gadis itu terkapar
di tengah jalan dengan darah yang bercucuran diantaranya. Hendra tercekat
melihatnya. Vita sudah tak bergerak di depan sebuah mobil bak hitam.
***
Alvent masih menunggu Vita di ruang perawatan kampusnya. Di
sana juga ada Hendra dan Age. Mereka sedang menunggu Vita siuman. Dilihatnya gadis
itu terbaring di kasur. Begitu lemah dan ringkih. Betapa menyesalnya Alvent
menyakiti Vita. Sedalam itukah dia melukai?
“Emm.. emm..”
Igauan Vita membuat Alvent, Hendra dan Age memperhatikan
gadis itu. Tangannya bergerak-gerak dan beberapa detik kemudian kelopak mata
Vita membuka perlahan. Vita mulai bangun setelah dua jam tak sadarkan diri.
Vita membuka matanya perlahan. Kepalanya sedikit pusing
melihat pantulan lampu yang menyorot matanya. Begitu terang.
“Hendra,” katanya dengan suara yang sedikit parau tapi
wajahnya begitu senang melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Buru-buru
dia mencoba untuk bangkit dari posisinya tapi tubuhnya tak kuat untuk menopang.
“Jangan dipaksa kalo belum bisa,” ujar Hendra yang
langsung membantu Vita untuk duduk. Jatungnya begitu berdebar melihat Vita
sedekat ini.
“Makasih.”
Vita tersenyum. Tapi dia juga heran melihat dua orang
yang berdiri di ruang itu juga. Dua orang laki-laki yang tak dikenalnya.
“Mereka temen mu?”
Hendra menoleh melihat Alvent dan Age. Memang benar
mereka teman-temannya, tapi Vita bertanya seolah tak kenal dengan mereka.
“Kamu nggak kenal sama mereka?”
Vita menggeleng.
“Beneran?”
Vita mengamati dua orang asing itu. Dia benar-benar tak
mengenaalinya sedikitpun. Vita menggeleng lagi.
Hendra menghirup nafas dengan berat lalu dihembuskannya lagi.
“Kamu udah nggak marahkan sama aku?”
Pertanyaan Vita membuat Hendra mengerutkan keningnya. Marah?
“Aku bisa jelasin semuanya Hend. Aku nggak bermaksud
mainin kamu. Aku bener-bener sayang sama kamu.”
Kata-kata itu bergulir dengan manis dari bibir Vita. Kata-kata
yang menusuk hati Alvent sampai bagian terdalamnya. Apa maksud semua ini? Begitu
banyak kejutan untuk hari ini. Vita tak mengenalinya bahkan gadis yang
dicintainya mengatakan bahwa dia menyayangi Hendra. Sakit. Amat sakit.
Alvent pergi dari ruangan itu. Dibantingnya pintu ruangan
itu. Dadanya bisa menjadi lebih sesak jika dia masih berada di dalam sana.
Obrolan dan adegan yang terjadi di sana begitu membuat Alvent naik pitam. Semua
ini begitu tak masuk akal baginya.
Hendra masih di dalam bersama Vita. Setelah Alvent keluar
tak lama Age juga ikut pergi dari sana. jadi sekarang hanya ada Hendra dan Vita
di ruang itu.
“Temen mu tadi kenapa sampe banting pintu segala?”
“Nggak tau tuh.”
“Namanya siapa?”
“Siapa?”
“Temen mu tadi yang banting pintu.”
“Oh, Alvent. Kamu gimana udah baikan?”
Hendra mengalihkan pembicaraan. Dia tidak suka jika harus
membahas Alvent.
Vita mengangguk dan tersenyum. Dia senang bisa melihat
wajah Hendra. Seperti sudah lama dia tak menatap wajah laki-laki yang
disayanginya ini.
“Dulu, pertamanya emang aku buat kamu barang taruhan tapi
ternyata aku dapet karma, aku jadi bener-bener sayang sama kamu,” ujar Vita
yang terus menatap Hendra. Entah mengapa ada yang berbeda dari Hendra. Ada rasa
yang kosong dan hambar saat dia mengucapkan itu semua tapi biarlah mungkin
karena kecelakaan kepalanya jadi sedikit agak melenceng.
“Hend,”
“Mmm?”
Vita diam sebentar. Ditundukan kepalanya.
“Kamu tetep mau jadi pacarku kan?”
Hendra diam menatap Vita. Inilah hal yang ditunggunya.
Vita ternyata benar-benar sudah kembali. Ingatan gadis itu sudah mengenali
siapa dirinya. Sudah tidak ada Alvent lagi, sekarang dia bebas memiliki Vita
seperti yang dia harapkan. Tapi saart hal yang sangat diinginkannya sudah ada
dihadapan matanya ada sesuatu yang telah dilupakan Hendra belakangan ini. Dia
melupakan Yana. Dia melupakan seseorang yang sudah mengisi sebagian hati yang
ditinggalkan Vita dulu. Setelah Vita kembali menempatinya apakah Hendra harus
membuang Yana?
“Gimana Hend?”
Wajah Vita begitu menggetarkan hatinya. Meruntuhkan kebimbangannya.
Dia tak bisa melepaskan Vita lagi. tidak untuk kedua kalinya.
“Iya. Aku tetep pacar kamu,” ucapnya kemudian. Biarlah Yana
menjadi urusan nanti. Biar takdir yang menyelesaikannya.
Vita tersenyum lalu memeluk Hendra erat. Getaran itu
mulai kembali.
Setelah mendengar cerita dari Age, Alvent kembali ke
ruang perawatan itu dan melihat adegan itu dari celah pintu. Dia hanya
tersenyum getir. Vita sudah menjadi milik Hendra. Dia sudah kembali ke dunianya
yang nyata. Ternyata Alvent hanya ilusi dalam hidup Vita. Alvent berbalik lalu
berjalan menjauhi ruangan itu dengan sedikit menyeret langkahnya. Hendra dan
Vita. Apakah akan ada yang terluka lagi?
***
Bersambung...
Kamis, 13 September 2012
Sandiwara Cinta #3
Sandiwara Cinta
Part 3
***
Udara malam ini begitu dingin, merasuk hingga ketulang
Alvent. Masih teringat jelas bagaimana tatapan yang diberikan Hendra kepada
Vita tadi siang. Tatapan yang belum pernah ia lihat. Dalam dan lembut. Dia
begitu cemburu melihat itu semua. Dia bukan takut kalahan taruhan dari Hendra
tapi Alvent takut jika dia yang akan tersisih lebih dulu dari hati Vita. Hati
yang mulai dimasukinya. Hati yang dipilihnya untuk ditinggali.
“Arrghh!”
Alvent menjerit. Frustasi. Nafasnya memburu bersama
egonya. Naik turun secara brutal. Sesak. Dia benci keadaan seperti ini. Dia amat
benci harus taklut dengan cinta dan dia begitu benci harus merasakannya lagi.
***
Di malam yang sama dan tempat berbeda Vita memasuki
rumahnya dengan membawa novel yang baru saja ia beli. Perahu Kertas karya Dewi
Lestari, penulis favoritnya. Ada rasa senang akhirnya dia bisa memilikinya.
“Kamu beli apa Vit?” tanya Kania, kakak Vita yang melihat
sang adik membawa sesuatu di tangannya.
“Beli Novel.” Vita menunjukan novel Perahu Kertas itu
kepada Kania.
Kania mengerenyitkan keningnya. Novel yang dibawa Vita
membuatnya bingung.
“Kamu beli novel itu lagi?”
“Vita kan belom beli.”
Sekarang giliran Vita yang bingung. Ditatapnya Kania
dalam lalu menatap novel yang dipegangnya. Kapan?
“Emang Vita pernah beli?”
Kania diam sesaat. Dia lupa jika Vita sedang lupa
ingatan. Kecelakaan yang lalu membuat Vita kehilangan setengah memorinya.
“Nggak usah dipikirin deh. Kakak juga lupa,” kata Kania nanar
menatap Vita. Dia memaksakan senyumnya. “Tidur sana, udah malem.”
Vita menurut. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar. Masih
dengan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya. Hari ini begitu ganjil
untuknya. Banyak sekali kejadian yang membuat kepalanya pening.
Vita masuk ke kamar dan menaruh novel itu ke rak bukunya.
Menjajarannya dengan koleksi-koleksi novel lainnya. Tapi saat itu matanya
tertuju pada sebuah novel. Novel yang sama persis dengan yang dipegangnya. Ternyata
yang dikatakan Kania benar. Dia sudah memiliki novel itu, tapi kapan dia
membelinya?
“Kok gue udah punya sih?”
Vita memegang kedua novel itu. Sama persis. Diletakannya novelnya
yang baru dan dibukannya yang lama. Kertasnya memang sudah mulai menguning. Dibukanya
halaman demi halaman tanpa membacanya. Dan disalah satu halaman ada gambar
dirinya dengan seorang laki-laki. Dengan Hendra lebih tepatnya. Vita tercengang
melihat itu. Hendra lagi yang muncul. Diambilnya foto itu, Vita mengamatinya
dengan seksama. Dibaliknya foto itu dan terdapat sebuah tulisan, “Jangan pernah lupain Hendra ya...”
***
Pagi ini Alvent menyusuri koridor kampusnya dengan
langkah cepat cepat. Dia menuju ke kelasnya. Saat sudah di ambang pintu dia
melihat Hendra sedang duduk di sana. Sendiri sembari membaca buku.
“Ndra gue mau ngomong sama elo.”
Nafas Alvent memburu. Dadanya naik turun.
Hendra meletakkan bukunya. Melihat Alvent dengan tatapan
bingung.
“Mau ngomong apa?” tanya Hendra. Sebenarnya dia usdah
tahu arah pembicaraan sahabatnya itu.
Alvent masih diam. Dia sedang menenagkan egonya.
“Mau ngomong masalah kemaren? Elo cemburu sama gue?”
Hendra dengan lantang mengatakannya. Dia sebenarnya juga ingin menghentikan ini
semua. Hari ini juga.
Alvent mendelik.
“Mau lo apa sih?”
Hendra tersenyum kecut.
“Mau gue? Mau gue elo putus sama Vita sekarang. Kita
batalin taruhan kita.”
Dengan tenang Hendra mengatakannya. Sengaja. Dia tidak
mau terlalu jauh menyakiti Vita.
Alvent meledak mendengar itu. Seenaknya Hendra menyuruh
Alvent. Hendra telah membawa Alvent kepada Vita dan sekarang Hendra akan
merebutnya begitu saja? Jangan harap.
“Maksud lo apa? Elo yang nyuruh tarohan dan sekarang nyuruh
batalin seenak jidat gitu aja.”
Alvent masih emosi. Sebenernya dia senang jika taruhan
itu dibatalkan karna dia bisa dengan tulus membalas cinta Vita. Bisa secara
terbuka jujur kepada dirinya. Tapi dia belum siap berpisah dengan Vita. Dia menyayangi
Vita.
“Iya elo putusin dia. Anggep kita nggak pernah tarohan.
Lupain Vita. Gampangkan?”
Hendra mulai terbakar emosinya. Dia benar-benar takut
melihat gelagat Alvent. Takut jika dugaannya kali benar jika Alvent benar-benar
jatuh cinta kepada Vita.
“Gue nggak mau!”
Hendra terdiam mendengarnya. Tangannya sudah mengepal
keras. Sakit.
“Gue nggak bakal mau putusin Vita walopun teruhan kita
batal.”
Kelas itu sunyi. Dua orang yang di dalamnya hanya berdiri
dan saling menatap. Hanya sengalan nafas diantara keduanya yang terdengar.
“Kalo elo nggak mau putusin Vita biar gue yang ngerebut
dia lagi. Inget elo nggak bakal bisa miliki dia. Jangan pernah mimpi buat jadi
pacar Vita!”
Hendra mengatakannya ditengah deraan emosinya yang dalam.
Ditekannya setiap kata itu.
Tapi entah disadari atau tidak. Ada yang menyaksikan
adegan itu. Ada yang mendengar pembicaraan mereka. Di ambang pintu ada Age yang
menyaksikannya. Tak disangkanya Alvent dan Hendra sedang memperebutkan Vita. Bahan
taruhan mereka sendiri lalu diliriknya orang yang ada di sampingnya. Gadis itu
memangis sembari menutup mulutnya, menekannya agar isaknya tak terdengar. Vita
menangis di samping Age. Dia tak menyangka dengan apa yang dilihat, dengan apa
yang didenger. Kedua laki-laki di depannya ini begitu jahat kepada dirinya. Begitu
kejam. Tapi Vita takut untuk bergerak. Dia takut untuk berteriak, memaki dan
menampar mereka.
“Harusnya gue yang ngomong gitu. Elo yang jangan ngimpi
bisa ngerebut Vita dari gue.”
Perkataan itu selesai. Alvent berbalik dan berjalan
keluar. Tapi begitu kagetnya saat dia melihat Vita menangis di samping Age. Gadis
itu memandangnya. Mata menyiratkan kepedihan yang mendalam. Alvent berjalan
mendekati Vita tapi saat di depan gadis itu dia tak berkata apa-apa. Vita dan
Alvent hanya saling memandang. Mencoba berbicara dan menjelaskan lewat tatapan.
“Sakit Vent,” kata Vita di tengah isakannya.
“Kamu bisa liat nggak? Di sini,” Vita menunjuk dadanya. “Di
sini rasanya sakit banget. Kamu bisa liat nggak?”
“Kenapa aku yang dijadiin tarohan? Kenapa? Apa aku pernah
jahat sama kamu?”
Vita menghapus air matanya. Dipalingkannya tatapannya
dari Alvent. dia menatap Hendra yang berada di belakang Alvent. Dia juga begitu
marah kepada laki-laki itu.
“Aku tulus sayang sama kamu Vent. Sayang banget. Tapi
kalo yang sayang cuma aku nggak ada gunanya Vent,” lanjut Vita lagi.
Alvent diam terpaku. Tak bisa berkata apa-apa lagi.
Vita ikut diam. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk
berbicara. Dan kalimat tadi sudah jelas untuk mengakhiri semuanya. Tatapannya
masih beradu dengan Alvent.
Hendra yang menyaksikan itu hanya bisa diam di tempatnya.
Dia tak bisa menjelaskan apa-apa. Dia tak bisa berkata bahwa dialah yang salah.
Bukan Alvent tapi dirinya. Dia tak bisa melakukan itu, tubuhnya seperti
terkunci dan di saat matanya bertatapan dengan Vita ada rasa menyesal yang
dalam.
“Makasih buat semuanya Vent,” kata Vita yang coba
tersenyum. Tapi kepalanya tiba-tiba pusing. Pusing yang tiba-tiba muncul
akhir-akhir ini.
“Hend, makasih juga ya. Kamu sama jahatnya kayak Alvent.”
Bughh.
Vita terjatuh di depan Alvent. Tubuhnya merosot ke lantai
dengan bebas. Setelah kata-kata itu Vita sudah tidak kuat menahan tubuhnya
untuk tetap berdiri.
Hendra mengikuti Alvent dari belakang. Dilihatnya tubuh
Vita bergelayut dalam gendongan Alvent. Dia melakukan kesalahan. Dia menyakiti
Vita saat gadis itu tak mengenalinya. Tidak adil. Dia membalas semua rasa
sakitnya bukan kepada lawan yang sesungguhnya.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


